Gaji Kecil Tak Selalu Jadi Masalah, Ini Cara Mengelola Uang Agar Tetap Cukup

Gaji Kecil Tak Selalu Jadi Masalah, Ini Cara Mengelola Uang Agar Tetap Cukup

23 Dec 2025 | Evergreen

Banyak pekerja mengeluhkan gaji yang terasa selalu kurang, meski sudah bekerja keras setiap hari. Gaji baru masuk di awal bulan, namun belum pertengahan bulan saldo sudah menipis. Kondisi ini sering berujung pada kebiasaan “gali lubang tutup lubang” lewat utang atau pinjaman online.

Namun, benarkah akar persoalannya ada pada besaran gaji? Ataukah justru pada cara mengelola keuangan?

Data National Endowment for Financial Education (NEFE) menunjukkan lebih dari 60 persen orang yang mendapat kenaikan gaji tetap merasa kekurangan secara finansial. Fakta ini mengindikasikan bahwa masalah keuangan tidak selalu berkaitan dengan kecil atau besarnya penghasilan, melainkan pada pola pengelolaan uang.

Tidak sedikit orang dengan gaji terbatas mampu menabung dan berinvestasi secara konsisten. Sebaliknya, ada pula yang berpenghasilan besar namun keuangannya selalu habis tanpa jejak. Perbedaannya terletak pada mindset dan kebiasaan finansial sehari-hari.

Berikut tujuh langkah sederhana yang bisa diterapkan agar gaji kecil tetap terasa cukup dan lebih terkontrol.

Catat Seluruh Pengeluaran

Banyak kebocoran keuangan terjadi karena pengeluaran kecil yang tidak disadari. Jajan kopi, parkir, atau membeli camilan tampak sepele, tetapi jika dikumpulkan bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah per bulan. Dengan mencatat setiap pengeluaran, seseorang dapat memahami pola belanjanya dan mengetahui pos mana yang perlu dikendalikan.

Gunakan Pola Anggaran yang Jelas

Salah satu metode yang cukup populer adalah sistem pembagian anggaran 50/30/20. Sebanyak 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau dana darurat. Bagi pemilik gaji kecil, proporsi ini bisa disesuaikan. Yang terpenting, tabungan tidak dihilangkan sama sekali.

Mampu Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Kesalahan umum dalam mengelola uang adalah menganggap keinginan sebagai kebutuhan. Contohnya, membeli barang mahal yang sebenarnya belum diperlukan. Dengan menunda pembelian dan memberi waktu untuk berpikir, keinginan impulsif sering kali mereda dengan sendirinya.

Menghindari Cicilan Konsumtif

Cicilan kerap terlihat meringankan, padahal bisa menjadi beban jangka panjang. Terutama jika digunakan untuk barang yang tidak produktif. Utang sebaiknya hanya diambil untuk kebutuhan penting atau hal yang mendukung penghasilan, bukan demi gaya hidup semata.

Mempersiapkan Dana Darurat

Kondisi darurat seperti sakit, kendaraan rusak, atau kehilangan pekerjaan sering menjadi pemicu krisis keuangan. Dana darurat berfungsi sebagai penyangga agar seseorang tidak perlu berutang saat situasi mendesak. Dana ini bisa dimulai dari nominal kecil dan dikumpulkan secara bertahap.

Menambah Sumber Penghasilan

Jika pengeluaran sudah ditekan namun tetap belum mencukupi, menambah pemasukan bisa menjadi solusi. Pekerjaan sampingan, freelance, atau usaha kecil berbasis keterampilan pribadi kini semakin terbuka berkat teknologi digital. Mengandalkan satu sumber penghasilan saja sering kali tidak cukup.

Konsisten dan Disiplin

Pengelolaan keuangan bukan sekadar teori, tetapi soal kebiasaan. Disiplin mencatat pengeluaran, menyisihkan tabungan, dan menahan diri dari belanja impulsif akan memberi dampak besar dalam jangka panjang.

Gaji kecil bukan berarti hidup harus selalu kekurangan. Dengan pengelolaan yang tepat, keuangan bisa lebih stabil, dana darurat terbentuk, dan tabungan tetap berjalan. Justru saat penghasilan terbatas, kebiasaan finansial yang sehat bisa mulai dilatih.
Pada akhirnya, kesejahteraan finansial tidak ditentukan oleh seberapa besar uang yang diperoleh, melainkan oleh seberapa bijak uang tersebut dikelola. (**)