Jangan Memutus Komunikasi Hanya karena Emosi

Jangan Memutus Komunikasi Hanya karena Emosi

06 Jan 2026 | Evergreen

Saat emosi memuncak, orang tua sering memutus komunikasi dengan anak—marah, diam, atau menegur tanpa penjelasan. Padahal penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pemutusan komunikasi saat emosi tinggi justru menghambat pembelajaran anak, merusak rasa aman emosional, dan membuat anak sulit memahami batasan. Misalnya, anak yang dilemparkan kemarahan orang tua karena lupa membereskan mainan mungkin merasa takut berbicara, bukannya belajar tanggung jawab.

Dalam keseharian, kunci adalah tetap menjaga komunikasi meski emosi sedang tidak stabil. Fakta menarik, studi dari Journal of Child and Family Studies menunjukkan bahwa anak yang tetap mendapat penjelasan dan komunikasi terbuka meski orang tua sedang kesal memiliki kemampuan regulasi emosi lebih baik, lebih kooperatif, dan lebih percaya diri dibanding anak yang sering menghadapi kemarahan tanpa penjelasan.

1. Kenali Emosi Anda Sebelum Menanggapi

Sebelum menegur atau memberi arahan, tarik napas dan sadari emosi sendiri. Misalnya, saat marah karena anak berlari di rumah, ambil waktu beberapa detik untuk tenang sebelum menegur.

Dengan cara ini, komunikasi tetap terbuka dan pesan yang disampaikan lebih efektif. Anak belajar menerima arahan tanpa rasa takut dan tetap memahami batasan.

2. Jangan Diam atau Menghindar

Memutus komunikasi dengan diam membuat anak bingung dan cemas. Misalnya, jika anak bertanya sesuatu dan orang tua menutup diri atau pergi, anak belajar bahwa ekspresi perasaan mereka tidak aman.

Pendekatan yang lebih sehat adalah tetap berbicara meski singkat atau menunda dengan memberi tahu, “Aku akan bicara sebentar setelah aku tenang.” Anak belajar bahwa komunikasi tidak hilang karena emosi sementara.

3. Gunakan Bahasa Tenang dan Jelas

Saat marah, gunakan kata-kata sederhana dan fokus pada perilaku, bukan karakter anak. Misalnya, “Tolong jangan berlari di dalam rumah karena bisa jatuh,” lebih efektif daripada berteriak atau menghina.

Bahasa yang jelas dan tenang membuat anak memahami pesan tanpa takut atau bingung. Mereka belajar batasan sambil tetap merasa didengar dan aman.

4. Validasi Perasaan Anak

Akui emosi anak saat menegur. Misalnya, “Aku tahu kamu ingin main sekarang, tapi waktunya makan,” membantu anak merasa dimengerti.

Validasi ini menjaga komunikasi tetap hangat dan mendidik anak mengenali emosi mereka sendiri. Mereka belajar mengekspresikan perasaan tanpa menimbulkan konflik.

5. Ajarkan Anak Cara Menunggu dengan Sabar

Terkadang orang tua perlu menunda pembicaraan agar emosi stabil. Misalnya, berkata, “Aku perlu menenangkan diri sebentar, nanti kita bicarakan bersama.”

Pendekatan ini mengajarkan anak kesabaran dan kontrol diri. Anak belajar bahwa komunikasi tetap berlangsung meski emosi muncul, bukan hilang atau dihindari.

6. Fokus pada Solusi, Bukan Kesalahan

Alih-alih marah karena kesalahan anak, arahkan percakapan ke solusi. Misalnya, “Mari kita pikirkan cara agar mainan tidak tercecer,” membuat anak belajar problem solving.

Dengan fokus pada solusi, anak tetap mendapat bimbingan dan memahami konsekuensi. Mereka belajar bahwa komunikasi membimbing, bukan menakut-nakuti.

7. Jadikan Komunikasi Konsisten dan Terbuka

Bangun kebiasaan berbicara dan mendengarkan setiap hari, termasuk saat emosi muncul. Konsistensi memberi anak rasa aman dan memperkuat kepercayaan.

Lingkungan komunikasi yang aman mengajarkan anak mengekspresikan diri, menerima arahan, dan memahami batasan. Mereka belajar bahwa emosi tidak memutus hubungan, tapi bisa dijembatani dengan dialog yang sehat.

Memutus komunikasi karena emosi merusak rasa aman dan kesempatan belajar anak. Bagaimana cara Anda menjaga komunikasi tetap terbuka saat emosi tinggi? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar dan sebarkan agar lebih banyak orang memahami pentingnya komunikasi yang konsisten dan empatik dalam mendidik anak. (**)