Lima Alasan Laki-laki Sering Menghilang saat Terpuruk

Lima Alasan Laki-laki Sering Menghilang saat Terpuruk

09 Jan 2026 | Evergreen

Tidak sedikit orang merasa bingung ketika seorang laki-laki tiba-tiba menjauh, menghilang, atau memutus komunikasi justru saat hidupnya sedang jatuh. Ia menjadi sulit dihubungi, menarik diri dari relasi, dan memilih diam. Sikap ini sering disalahartikan sebagai tidak peduli, kabur dari tanggung jawab, atau tidak dewasa. Padahal, di balik keheningan itu, sering ada pergulatan batin yang tidak sederhana.

Berikut lima alasan yang kerap membuat laki-laki memilih menghilang ketika hidupnya sedang terpuruk.

1. Merasa Gagal Menjadi Diri yang “Seharusnya”

Banyak laki-laki tumbuh dengan standar bahwa mereka harus kuat, mapan, dan mampu menopang diri sendiri, bahkan orang lain. Ketika hidup runtuh, standar itu ikut runtuh. Rasa gagal ini bukan sekadar soal uang atau pekerjaan, tetapi soal identitas.

Alih-alih berbagi, sebagian laki-laki memilih menghilang karena malu pada kondisinya sendiri. Mereka takut dilihat sebagai beban, lemah, atau tidak layak dihormati. Diam menjadi cara melindungi sisa harga diri.

2. Tidak Terbiasa Mengekspresikan Emosi

Banyak laki-laki tidak dibesarkan untuk membicarakan luka. Sejak kecil, emosi sering diajarkan untuk ditekan, bukan dipahami. Akibatnya, ketika terpuruk, mereka tidak tahu harus bicara bagaimana dan kepada siapa.

Menghilang menjadi mekanisme bertahan. Bukan karena tidak ingin dipahami, tetapi karena tidak punya bahasa untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

3. Takut Mengecewakan Orang-Orang Terdekat

Ironisnya, laki-laki sering menjauh justru dari orang yang paling peduli. Bukan karena tidak menghargai, tetapi karena takut mengecewakan. Mereka merasa belum pantas hadir sebelum “beres”.

Dalam pikirannya, menjauh sementara terasa lebih baik daripada hadir dalam kondisi berantakan. Padahal, jarak ini sering disalahpahami sebagai penolakan.

4. Ingin Menyelesaikan Masalah Sendiri

Banyak laki-laki memaknai kemandirian sebagai menyelesaikan segalanya sendirian. Meminta bantuan dianggap tanda lemah, padahal sering kali justru sebaliknya.

Saat terpuruk, mereka menarik diri untuk “membereskan diri”. Menghilang bukan untuk lari, tetapi untuk berpikir, menata ulang, dan mencari pijakan. Sayangnya, proses ini kerap berlangsung dalam kesepian yang panjang.

5. Tidak Ingin Dilihat dalam Kondisi Rapuh

Kerentanan masih dianggap sesuatu yang berbahaya bagi banyak laki-laki. Menangis, bingung, atau tidak tahu arah sering dianggap aib. Karena itu, menghilang terasa lebih aman daripada membuka sisi rapuh di depan orang lain.

Mereka memilih menunggu sampai bisa tampil kembali sebagai versi yang “layak dilihat”. Padahal, luka yang tidak dibagi sering kali justru semakin berat.

________
Menghilangnya laki-laki saat hidup terpuruk tidak selalu berarti tidak peduli atau tidak bertanggung jawab. Sering kali, itu adalah bentuk kebingungan, rasa malu, dan cara bertahan yang tidak sehat, tetapi dipelajari sejak lama.

Memahami hal ini bukan untuk membenarkan sikap menghilang, melainkan untuk melihatnya dengan lebih manusiawi. Sebab di balik keheningan itu, sering ada seseorang yang sedang berjuang sendirian, tanpa tahu bagaimana cara meminta tolong. (**)