Marcel Mahouvé: Dari Putra Samarinda  ke Panggung Dunia

Marcel Mahouvé: Dari Putra Samarinda ke Panggung Dunia

13 Jan 2026 | Olahraga

Nama Marcel Mahouvé mungkin tak selalu berada di barisan terdepan ingatan publik sepak bola Indonesia. Namun bagi mereka yang mengikuti Liga Indonesia era pertengahan 1990-an, sosok gelandang bertahan asal Kamerun ini adalah bagian dari kisah unik—sebuah perjalanan karier yang justru berlawanan arah dari pakem para bintang Afrika lainnya.

Mahouvé adalah sebuah anomali. Jika kebanyakan pemain Kamerun yang merumput di Indonesia datang dengan status “alumni” Piala Dunia, Mahouvé justru memulai perjalanannya di Nusantara sebelum mencicipi panggung sepak bola tertinggi sejagat.

Samarinda: Titik Awal yang Tak Lazim

Tahun 1995, di usia yang masih 22 tahun, Mahouvé Marcel—saat itu masih memperkuat klub lokal Kamerun, Dynamo Yaoundé—mendarat di Samarinda untuk membela Putra Samarinda di Liga Dunhill II musim 1995/1996. Langkah ini terbilang berani, bahkan tak lazim, bagi pemain muda Afrika yang biasanya menjadikan Eropa sebagai tujuan utama.

Di Samarinda, Mahouvé tidak berjalan sendiri. Ia berbagi ruang ganti dengan dua legenda besar Kamerun: Roger Milla, ikon Piala Dunia 1990 yang tak lain adalah orangtua Mahouve serta Bertin Ebwelle. Di antara para senior itulah Mahouvé menempa diri—bukan sebagai bintang flamboyan, melainkan pekerja sunyi di lini tengah. Perannya sebagai gelandang serang dan striker, membuat permainan “Pesut Mahakam menjadi lebih solid dan terstruktur.

Selama dua musim (1995–1997), Mahouvé tampil konsisten dan mencuri perhatian. Liga Indonesia menjadi laboratorium pertamanya: keras, emosional, dan penuh tekanan—bekal yang kelak sangat berguna.

Eropa Memanggil

Usai petualangan di Indonesia, Mahouvé mengambil langkah besar berikutnya: Eropa. Klub Prancis Montpellier HSC merekrutnya untuk bersaing di Ligue 1, kasta tertinggi sepak bola Prancis. Di sinilah karier Mahouvé benar-benar memasuki fase baru.

Musim perdananya bersama Montpellier berjalan impresif. Ia menunjukkan kedewasaan bermain, disiplin taktis, dan ketangguhan fisik—atribut yang membuatnya dilirik oleh tim nasional Kamerun. Panggilan itu datang tepat waktu.

Piala Dunia di Negeri Anggur

Tahun 1998, Prancis menjadi tuan rumah Piala Dunia. Bagi Mahouvé, turnamen itu bukan sekadar debut internasional besar—tetapi juga sebuah lingkaran yang seolah menutup rapat perjalanan kariernya: dari Indonesia, ke Prancis, lalu tampil di Piala Dunia yang digelar di Prancis.

Mengenakan nomor punggung 19, Mahouvé mencatatkan penampilan saat Kamerun menghadapi Cile di laga terakhir fase grup B. Meski Kamerun tak melangkah jauh, kehadiran Mahouvé di panggung dunia menegaskan bahwa jalur karier yang ia tempuh—tak lazim dan berliku—bukanlah sebuah kesalahan.

Puncak Afrika dan Senja Karier

Dua tahun berselang, Mahouvé mencapai salah satu puncak tertinggi dalam hidupnya sebagai pesepak bola: menjuarai Piala Afrika 2000 bersama Kamerun. Ia menjadi bagian dari generasi emas “Singa Tak Terkalahkan” yang memperkuat dominasi Kamerun di benua Afrika.

Setelah itu, Mahouvé melanglang buana di sejumlah klub Eropa. Seiring usia yang menua, ia akhirnya memilih kembali ke tempat yang pernah menjadi pondasi kariernya.

Sekitar musim 2008/2009, Mahouvé kembali ke Indonesia—kali ini memperkuat Persita Tangerang. Tak lagi muda, ia datang dengan pengalaman, ketenangan, dan perspektif seorang pemain yang telah merasakan sepak bola di tiga dunia: lokal, Eropa, dan internasional.

Warisan yang Tenang

Mahouvé mungkin bukan nama yang sering menghiasi tajuk utama. Namun kisahnya adalah pengingat bahwa sepak bola tidak selalu bergerak lurus dari satu puncak ke puncak lain. Kadang, jalan memutar—melewati Samarinda, Prancis, dan kembali ke Indonesia—justru membentuk karakter dan makna yang lebih dalam.

Ia adalah bukti bahwa Liga Indonesia pernah menjadi bagian penting dari peta besar sepak bola dunia—bukan sekadar tujuan akhir, melainkan titik awal menuju mimpi global. (**)

Sumber berita : akun Facebook Koko Herli