Pohon Jingah dan "Reaksi Alam" untuk Orang yang Sombong

Pohon Jingah dan "Reaksi Alam" untuk Orang yang Sombong

11 Feb 2026 | Evergreen

Di tengah hutan Kalimantan Selatan, ada satu pohon yang namanya selalu disebut dengan suara pelan:
pohon jingah. Bagi orang Banjar, jingah bukan sekadar tumbuhan. la dipercaya punya
"isi" dan reaksi yang berbeda untuk setiap orang.
Tidak semua manusia sanggup berhadapan dengannya.
Masyarakat setempat menyebutnya dengan
istilah daraman dan kada daraman. Daraman adalah orang yang kuat, serasi dengan alam dan makhluk yang ada di dalamnya. Kada daraman adalah sebaliknya, orang yang dianggap lemah secara batin. Perbedaan inilah yang menentukan nasib seseorang saat menyentuh pohon jingah.
Bagi orang daraman, menyentuh jingah tidak menimbulkan apa-apa. Kulit tetap utuh, tidak panas, tidak gatal. Bahkan ada yang bilang pohon itu terasa dingin dan tenang, seolah menerima kehadiran mereka. Tapi bagi orang kada daraman, efeknya bisa langsung terasa. Kulit memerah, gatal hebat, melepuh seperti terbakar. Ada yang sampai panas dingin, lemas, bahkan pingsan hanya karena bersandar terlalu lama.
Konon, bukan getah atau durinya yang berbahaya, tapi "reaksi alam" dari pohon itu sendiri. Jingah dipercaya bisa "mengenali" siapa yang pantas dan siapa yang tidak. Semakin orang itu sombong, berniat buruk, atau tidak menjaga sikap di hutan, semakin cepat pula efeknya muncul.
Pohon jingah paling sering disebut berada di
Banjarbaru, khususnya di daerah Guntung Jingah.
Nama tempat itu sendiri dipercaya berasal dari keberadaan pohon-pohon jingah sejak zaman dahulu. Para tetua Banjar mengatakan, dulu daerah itu jarang disentuh sembarang orang.
Pendatang yang tidak permisi sering pulang dengan badan gatal-gatal, kulit melepuh, atau sakit aneh yang tak bisa dijelaskan secara medis.
Ada cerita turun-temurun tentang seorang penebang liar yang menantang kepercayaan ini. la menyentuh batang jingah sambil tertawa, merasa semua itu hanya mitos. Tidak sampai satu jam, tangannya panas seperti disiram air mendidih. Kulitnya melepuh, gatal tak tertahankan. Berhari-hari ia tidak bisa tidur.
Setelah dibawa ke orang pintar dan diminta meminta maaf secara batin, barulah perlahan sembuh.
Karena itulah, orang Banjar diajarkan sejak kecil untuk menjaga sikap di alam. Jangan sembarangan menyentuh pohon tua, jangan bicara kasar di hutan, dan selalu permisi, meski hanya lewat. Jingah menjadi simbol bahwa alam bukan benda mati, melainkan sesuatu yang hidup dan punya aturan sendiri.
Sampai hari ini, kisah tentang pohon jingah masih dipercaya. Entah itu sugesti, reaksi alam, atau warisan leluhur, satu hal yang pasti: tidak semua orang cocok dengan jingah. Kalau kamu daraman, mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Tapi kalau kada daraman, satu sentuhan saja bisa jadi pelajaran seumur hidup. (**)