Sepanjang 2025 Bencana Banjir Dominasi Kaltim
SAMARINDA. Masalah banjir seolah menjadi bencana yang tak pernah bisa diselesaikan. Tak hanya di Samarinda, sebab daerah lain pun merasakan dampak bencana ini.
Dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim sepanjang 2025, tercatat
sedikitnya 845 kejadian bencana terjadi di berbagai kabupaten dan kota. Rentetan peristiwa itu menimbulkan kerusakan luas dengan estimasi kerugian mencapai Rp40,79 miliar.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan mengatakan, sebagian besar bencana yang terjadi masih didominasi faktor hidrometeorologi, terutama banjir yang hampir merata melanda wilayah Bumi Etam.
“Banjir menjadi kejadian paling menonjol sepanjang 2025, disusul kebakaran pemukiman dan tanah longsor,” ujar Buyung saat
memaparkan data BPBD, didampingi Muriono dari Pusdalops BPBD Kaltim.
Berdasarkan rekapitulasi Pusdalops, banjir tercatat terjadi 267 kali, menjadikannya bencana paling sering muncul. Berikutnya kebakaran pemukiman sebanyak 249 kejadian dan tanah longsor 149 kejadian. Selain itu, bencana lain juga mewarnai 2025, mulai dari gempa bumi hingga cuaca ekstrem.
Secara rinci, sebaran bencana di Kaltim sepanjang 2025 meliputi:
- Banjir 267 kejadian
- Kebakaran pemukiman 249 kejadian
- Tanah longsor 149 kejadian
- Gempa bumi 56 kejadian
- Cuaca ekstrem 42 kejadian
- Kebakaran hutan dan lahan 34 kejadian
- Kekeringan 2 kejadian
- Gelombang tinggi/abrasi 2 kejadian
- Bencana lain-lain 44 kejadian
Dampak kemanusiaan akibat rangkaian bencana tersebut tergolong serius. BPBD mencatat 78 orang meninggal dunia, 22 hilang, dan 55 mengalami luka-luka atau sakit. Sebanyak 278 warga terpaksa mengungsi, sementara 161.976 orang tercatat terdampak langsung.
Kerusakan infrastruktur juga tak kalah mencemaskan. Hampir 400 ribu unit rumah dilaporkan tergenang banjir. Selain itu, 128 kios dan ruko, puluhan fasilitas umum, sekolah, perkantoran, hingga fasilitas kesehatan turut terdampak. Akses transportasi pun terganggu akibat rusaknya 23,46 kilometer jalan dan 15 jembatan. Sementara itu, 333,07 hektare lahan dilaporkan terbakar sepanjang tahun lalu.
Memasuki awal 2026, BPBD Kaltim kembali mengingatkan potensi ancaman baru. Meski banjir mendominasi tahun sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menunjukkan tren peningkatan.
Buyung menjelaskan, kondisi cuaca yang lebih panas menjadi pemicu cepatnya penyebaran api, namun aktivitas manusia masih menjadi faktor utama. Pembukaan lahan dengan cara membakar dinilai memperparah situasi.
“Cuaca terik membuat api cepat merambat dan sulit dikendalikan. Namun penyebab utamanya tetap aktivitas manusia,” tegasnya, Rabu (4/2/2026).
Pusdalops BPBD mencatat banyak titik panas muncul di Area Penggunaan Lain (APL) dan lahan milik warga yang tengah disiapkan untuk masa tanam. Daerah Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara (PPU), dan Berau kini masuk kategori wilayah paling rawan hotspot.
BPBD pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dan meningkatkan kewaspadaan. “Karhutla bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mulai berdampak pada kualitas udara di kawasan permukiman,” pungkas Buyung. (**)
-
Penjahat Luar Pulau Kini Bidik Samarinda04 Apr 2026 -
Pura-pura Jadi Teknisi, Gasak Mesin Speedboat04 Apr 2026 -
-
-
-
-
-