Sering Menyundul Bola Ternyata Berbahaya, Gordon McQueen Contohnya

Sering Menyundul Bola Ternyata Berbahaya, Gordon McQueen Contohnya

28 Jan 2026 | Lifestyle

Ini mungkin jadi peringatan bagi para pemain bola. Sebab keseringan menundul bola ternyata berdampak tak baik. Sebab hal itu bisa membuat gangguan pada alat pikir manusia.
Hal itu dialami mantan bek tim nasional Skotlandia Gordon McQueen, yang wafat pada 2023 lalu. McQueen kemungkinan mengalami cedera otak akibat kebiasaan menyundul bola selama karier profesionalnya.
Dalam sidang penyelidikan kematian (inquest) yang digelar di Northallerton, North Yorkshire, seorang petugas yang melakukan pemeriksaan mayat (koroner), Jon Heath, menyatakan bahwa benturan kepala berulang yang dialami McQueen selama bermain sepak bola kemungkinan besar berkontribusi terhadap cedera otak yang dideritanya.
McQueen sendiri meninggal dunia pada Juni 2023 dalam usia 70 tahun di kediamannya di North Yorkshire.
Penyebab langsung kematiannya ialah pneumonia. Namun, koroner menjelaskan kondisi itu terjadi setelah McQueen mengalami penurunan fisik ekstrem dan harus terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan.
Menurut keterangan dalam persidangan, kondisi rapuh yang dialami McQueen disebabkan kombinasi antara demensia vaskular dan chronic traumatic encephalopathy (CTE), yakni gangguan otak degeneratif yang berkaitan erat dengan benturan kepala berulang.
Jon Heath selaku koroner menegaskan bahwa kegiatan menyundul bola (heading) selama bertahun-tahun kemungkinan menjadi faktor utama munculnya CTE.
“Kemungkinan besar benturan kepala berulang akibat menyundul bola saat bermain sepak bola berkontribusi terhadap CTE yang diderita,” ujar Heath.
Dalam persidangan itu, putri McQueen yang juga seorang presenter televisi Hayley McQueen turut hadir untuk mendengarkan putusan.
Hayley mengungkapkan, ayahnya sempat menyadari kemungkinan hubungan antara masa lalunya sebagai pesepak bola dengan penyakit yang dideritanya.
“Dia (Gordon McQueen) pernah berkata bahwa menyundul bola selama bertahun-tahun mungkin tidak membantu kondisi kesehatannya,” tutur Hayley.
Meski relatif jarang mengalami cedera serius saat aktif bermain, McQueen diketahui sempat mengalami beberapa gegar otak. Namun pada era tersebut, pemain yang mengalami benturan kepala umumnya tetap melanjutkan pertandingan tanpa penanganan medis khusus.
Setelah wafat, keluarga McQueen menyumbangkan otak sang bintang Manchester United untuk diteliti oleh Prof Willie Stewart, seorang konsultan neuropatologi dari Queen Elizabeth University Hospital, Glasgow. Stewart menemukan bukti jelas adanya CTE serta demensia vascular pada organ vital McQueen.
Dalam keterangannya, Stewart menilai satu-satunya bukti yang paling menonjol atas kematian sang legenda ialah tingginya paparan kegiatan menyundul bola yang dialami sang pemain sepanjang kariernya.
McQueen selama bermain dikenal sebagai salah satu bek tangguh generasi 1970-an. McQueen memperkuat Leeds United sejak 1972, membantu klub meraih gelar liga musim 1973–1974, serta tampil di final Piala Champions Eropa (sekarang Liga Champions) 1975. McQueen kemudian bergabung dengan Manchester United dan memenangkan Piala FA pada 1983. (**)