Universal Media
Banner Pemerintah Kota Bontang
Atasi Kekeringan 170 Hektare Sawah, Jalur Air Eks Tambang Dibuat

Atasi Kekeringan 170 Hektare Sawah, Jalur Air Eks Tambang Dibuat

20 Sep 2026 | Pemerintahan

SAMARINDA. Masalah kemarau panjang di Samarinda terus memunculkan persoalan. Selain kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan juga menjadi persoalan bagi para petani.
Dan kekeringan itu kini mengancam para petani di kawasan Pelita 6, Kecamatan Sambutan. Sebab sekitar 170 hektare lahan persawahan kini mengalami krisis air. Kondisi tersebut membuat sekitar 60 persen tanaman padi terancam gagal panen.
Lahan pertanian itu dikelola sedikitnya lima kelompok tani. Sejumlah petak sawah bahkan sudah mengalami kekeringan parah. Tanah yang sebelumnya menjadi media tumbuh padi kini mengeras akibat lama tidak mendapat pasokan air.
Ketua Kelompok Tani Argo Wisata, Abdul Masturi mengatakan, kondisi tanaman padi saat ini cukup mengkhawatirkan. Ratusan hektare tanaman disebut telah terdampak kekeringan.
“Ini 170 hektare dari lima kelompok tani. Padi-padi kami hampir sudah gagal. Gagalnya kira-kira 60 persen,” kata Abdul, Minggu (20/9/2026).
Menurutnya, kondisi lahan semakin sulit lantaran sumber air untuk mengairi persawahan tidak lagi mencukupi. Di sejumlah lokasi, permukaan tanah sudah mengeras dan sulit diolah.
“Kering sekali ini, seperti semen, batu,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga menjadi persoalan ketika petani didorong meningkatkan produktivitas dengan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun. Sebab, tanpa dukungan sumber air yang memadai, target tersebut sulit dicapai.
“Ini sudah dua kali setahun, 170-an hektare ini. Kami dikejar untuk tanam tiga kali setahun, tapi namanya pendukung airnya seperti ini kan nggak bisa,” ungkapnya.
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah mulai mencari sumber air alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan lahan pertanian.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah memanfaatkan air dari danau bekas tambang yang berada tidak jauh dari kawasan persawahan. Danau tersebut memiliki luas hampir 10 hektare dengan kedalaman mencapai sekitar 50 meter.
Sumber air itu berjarak lebih dari 300 meter dari aliran sungai. Air nantinya diarahkan menuju alur sungai yang telah disiapkan untuk kemudian dimanfaatkan dalam sistem pengairan sawah.
Bagi petani, langkah tersebut diharapkan mampu menyelamatkan tanaman yang masih dapat dipertahankan sekaligus memastikan ketersediaan air untuk musim tanam berikutnya.
Abdul berharap persoalan pengairan tidak hanya ditangani ketika kemarau melanda. Menurutnya, sistem pengairan permanen sangat dibutuhkan agar petani tidak terus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kering. “Kami harapkan pemerintah kota, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat memberikan perhatian. Kami ini petani di sini mengharapkan air,” tuturnya.
Sementara itu, PPK OP SDA 2 BWS Kalimantan IV Samarinda, Anwar mengatakan, pihaknya turut turun tangan setelah melakukan koordinasi dengan BPBD dan Dinas Pertanian.
BWS membangun saluran sepanjang sekitar 312 meter untuk membantu mengalirkan air menuju kawasan persawahan. "Tujuannya itu mengatasi kekeringan. Mudah-mudahan para petani juga terbantu dengan saluran air sepanjang 312 meter,” kata Anwar.
Saluran tersebut dibuat sebagai saluran tersier dengan lebar sekitar dua meter dan kedalaman kurang lebih satu meter. Pengerjaan dilakukan menggunakan alat berat, termasuk excavator PC 50.
Pekerjaan ditargetkan rampung dalam tiga hari sehingga saluran dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air petani.
Di sisi lain, Pemkot Samarinda melalui BPBD menyiapkan pompa untuk mengantisipasi kebutuhan pengairan setelah saluran selesai dibangun.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso mengatakan, persoalan kekeringan sawah juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Jika produksi padi terganggu, dampaknya berpotensi merembet pada ketersediaan komoditas dan harga pangan.
“Upaya BPBD dalam mengatasi kekeringan sawah ini dan juga mengantisipasi inflasi dampaknya, karena aliran sudah dibuat oleh rekan-rekan dari BWS kurang lebih 312 meter,” jelas Suwarso.
Namun, pemanfaatan air dari danau eks tambang tidak bisa dilakukan dengan membuka aliran secara langsung. Kondisi cuaca menjadi salah satu pertimbangan.
Saat hujan deras, debit air yang masuk secara langsung dikhawatirkan terlalu besar dan justru menyebabkan genangan di kawasan persawahan.
“Di sisi atasnya antara perbatasan alur sungai yang dibuat dengan eks void ini kan tidak bisa dibuka langsung karena risiko kalau hujan deras air itu membanjiri sawah,” katanya.
Sebagai solusi, BPBD menyiapkan mesin pompa agar pengambilan dan pengaliran air dapat dikendalikan sesuai kebutuhan. Pompa tersebut memiliki ukuran saluran sekitar enam inci.
“Saat ini sudah tersedia di BPBD dan nanti tinggal kita komunikasi BBM-nya dengan Dinas Ketapang supaya membantu petani selama kepentingannya untuk mengairi sawah yang mau ditanam ini,” jelasnya.
Suwarso menegaskan penanganan kekeringan tersebut membutuhkan kerja bersama. Tidak hanya BPBD, tetapi juga BWS, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian serta kelompok tani.
“Upaya kami itu mesinnya baru supaya semuanya berkolaborasi dari semua sisi,” pungkasnya. (**)