50 Hektare Lahan di Serayu Terancam Gagal Panen
SAMARINDA. Ketika musim hujan tak kunjung datang, harapan petani pun perlahan ikut mengering bersama hamparan persawahan. Sejumlah lahan pertanian di Samarinda kini menghadapi ancaman serius akibat kemarau panjang.
Di kawasan Serayu, sedikitnya 50 hektare lahan persawahan berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Air yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan bagi tanaman padi kini nyaris tak tersisa. Tanaman yang baru saja ditanam bahkan terancam mati sebelum sempat tumbuh dan menghasilkan bulir padi.
Di tengah situasi tersebut, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda mengambil langkah penyelamatan dengan memprioritaskan pasokan air bagi lahan persawahan yang sudah memasuki masa tanam.
Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk mencegah petani mengalami kerugian lebih besar akibat gagal panen.
Menurutnya, petani yang telah menanam padi sudah mengeluarkan berbagai biaya, mulai dari pembelian benih, bibit hingga pupuk.
"Penyaluran air ini diprioritaskan bagi sawah-sawah yang sudah terlanjur ditanami, di mana petani sudah mengeluarkan modal untuk benih, bibit, dan pupuk, agar mereka tidak mengalami gagal panen," ujar Andri, Senin (6/9/2026).
BWS Kaltim telah mendistribusikan sekitar 4.000 liter air ke sejumlah wilayah persawahan yang mengalami kekeringan. Beberapa kawasan yang menjadi perhatian berada di Tanah Merah dan Makroman, Samarinda.
Namun, kebutuhan air untuk menyelamatkan lahan pertanian ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan pasokan yang tersedia.
BWS pun terus melakukan koordinasi dengan dinas pertanian untuk memetakan lokasi persawahan yang mengalami kekeringan sekaligus mencari sumber air terdekat yang dapat dimanfaatkan. Selain mengirimkan air, langkah lain juga dilakukan melalui perbaikan infrastruktur irigasi.
BWS melakukan pengerukan dan normalisasi saluran irigasi sepanjang kurang lebih 200 meter di area persawahan Samarinda. Saluran tersebut sebelumnya mengalami gangguan akibat endapan lumpur yang menghambat aliran air menuju lahan pertanian.
Sementara di Kabupaten Kutai Kartanegara, BWS memberikan dukungan berupa perbaikan serta peminjaman mesin pompa air untuk membantu pemerintah daerah mengoptimalkan pengairan persawahan. Meski demikian, kemarau panjang membuat persoalan air semakin kompleks.
Andri menjelaskan, sejumlah fasilitas sumur air tanah dalam yang dibangun BWS sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pengairan. Namun dalam kondisi kekeringan ekstrem, cadangan air tersebut harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat.
Karena itu, BWS bersama instansi terkait mengimbau para petani agar tidak terburu-buru memulai masa tanam baru, terutama pada lahan sawah tadah hujan. Penanaman baru hanya dianjurkan bagi lahan yang memiliki jaminan pasokan air memadai dari bendungan atau sumber air di wilayah hulunya.
"Kegiatan penanaman baru hanya direkomendasikan bagi area persawahan yang memiliki kelayakan pasokan air dari bendungan yang memadai di wilayah hulunya," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Margo Utomo, Didi mengatakan, kondisi lahan pertanian di sejumlah wilayah tidak sama. Untuk kawasan Guntung Lai, sebagian petani masih dapat bernapas lega karena sejumlah tanaman telah memasuki masa panen.
"Kalau daerah Guntung Lai, alhamdulillah aman. Sudah ada yang panen," ujarnya.
Menurut Didi, lahan persawahan di kawasan tersebut kini berada dalam kondisi kritis akibat tidak adanya pasokan air. Petani yang baru menyelesaikan proses penanaman harus menghadapi kenyataan pahit ketika hujan tak kunjung turun.
"Kalau untuk wilayah Serayu itu masih kekeringan. Kemungkinan bisa gagal panen. Air sudah tidak ada lagi di sana, sudah kering. Baru selesai tanam, langsung tidak ada hujan," ungkapnya.
Kondisi tersebut dialami oleh tiga kelompok tani yang mengelola lahan persawahan dengan luas total sekitar 50 hektare. Tanpa sumber air alternatif, para petani hanya menggantungkan harapan kepada hujan.
"Kalau di Serayu ada tiga kelompok, luasannya kurang lebih 50 hektare," katanya.
Bantuan air sebenarnya sempat diberikan ke lokasi tersebut. Namun, menurut Didi, jumlah air yang dikirim masih jauh dari cukup untuk mengatasi kekeringan yang melanda puluhan hektare persawahan.
"Kemarin saya tanya teman-teman di sana, dibantu air satu tangki dan dialirkan ke parit. Ya sampai ke lokasi, tetapi cuma sekali. Kalau cuma satu tangki tentu kurang," jelasnya.
Untuk mengalirkan air ke area persawahan, petani juga membutuhkan mesin pompa.
Dengan luas lahan mencapai puluhan hektare, satu tangki air dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap tanaman padi yang mulai kekurangan air.
Didi memperkirakan diperlukan pasokan air dalam jumlah lebih besar agar upaya penyelamatan tanaman dapat dilakukan secara maksimal.
"Mungkin kalau bisa dialirkan sekitar 10 tangki. Nanti anggota juga berupaya mencari mesin pompa untuk menaikkan air ke sawah," katanya.
Persoalan semakin berat karena kawasan tersebut tidak memiliki sumur yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber cadangan.
"Di sana tidak ada sumur. Jadi memang butuh air hujan atau suplai air," ucapnya.
Kini, para petani hanya bisa berharap bantuan air dapat segera ditingkatkan atau hujan turun dalam waktu dekat. Sebab, jika kekeringan terus berlangsung, puluhan hektare tanaman padi yang baru saja ditanam terancam mati sebelum memberikan hasil. (**)