Limbah Tahu Hadirkan Bau Menyengat di Bendungan Benanga
SAMARINDA. Surutnya air Bendungan Benanga akibat kemarau mulai memengaruhi kondisi lingkungan di sekitarnya. Aliran air yang sebelumnya bergerak menuju sungai-sungai kecil kini tidak lagi berjalan normal. Genangan yang tersisa pun mulai menimbulkan aroma tak sedap.
Kondisi tersebut dirasakan warga dan pedagang yang sehari-hari beraktivitas di kawasan bendungan benanga, Lempake. Nur Kasiyati (39), salah seorang pedagang, mengatakann lapaknya masih tetap buka meski jumlah pengunjung yang datang untuk makan di lokasi berkurang.
“Kalau jualan tetap saja, kadang ramai kadang sepi. Tapi kalau untuk orang makan di sini jarang ada,” ujarnya saat ditemui Kamis (17/9/2026).
Menurut Nur, aroma tidak sedap dari kawasan perairan mulai terasa sekitar sepekan terakhir. Kondisi itu membuat suasana di sekitar bendungan tidak lagi senyaman sebelumnya.
Tak hanya persoalan air yang mengering, keberadaan sampah di aliran sungai juga menjadi perhatian. Nur mengaku masih melihat aktivitas warga yang membuang sampah langsung ke sungai, terutama pada malam hari.
“Kalau malam kadang-kadang itu jam satu, jam dua orang buang sampah. Dari mana-mana itu orang buang sampah, buang langsung ke dalam,” katanya.
Persoalan kualitas air di kawasan tersebut turut menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda. Dari hasil peninjauan, DLH menemukan adanya aktivitas usaha tahu yang telah beroperasi sejak 1994 dan sebelumnya membuang limbah langsung ke sungai.
Plt Kepala Bidang Penataan DLH Samarinda Rifqi Helmi mengatakan, saat ini pelaku usaha memang telah menyediakan bak untuk menampung limbah. Namun, bak tersebut belum dilengkapi proses pengolahan limbah.
“Bak-bak penampungan itu hanya dilakukan untuk menampung, bukan untuk diolah,” jelas Rifqi.
Atas temuan tersebut, DLH meminta pelaku usaha menghentikan sementara pembuangan limbah cair ke sungai. Limbah yang telah tertampung nantinya akan disedot dengan bantuan Dinas PUPR Samarinda.
DLH juga akan melakukan pembinaan kepada pelaku usaha agar pengelolaan limbah dilakukan sesuai ketentuan. Sebab, limbah dari aktivitas produksi tahu terdiri atas limbah padat dan cair yang membutuhkan penanganan berbeda.
“Untuk sementara yang mereka lakukan nanti ke depannya akan kami bina untuk melakukan bagaimana cara pengelolaan limbah tahu yang benar,” pungkasnya. (**)