Kabut Asap Kian Pekat, Udara Samarinda Disebut Sangat Tak Sehat
SAMARINDA. kondisi kabut asap di Kota Samarinda ada pada titik terburuk. Kamis (17/9/2026), kabut asap pekat terpantau di beberapa titik, dengan konsentrasi partikulat PM2,5 mencapai ratusan mikrogram per meter kubik.
Plt Kepala DLH Kota Samarinda Suwarso mengatakan, hasil analisis tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda melalui alat pemantau di Bandara APT Pranoto dan kawasan Taman Segiri atau Taman Lansia menunjukkan kualitas udara masih berada pada kondisi sangat tidak sehat.
Di kawasan Samarinda Utara, alat pemantau di APT Pranoto mencatat konsentrasi PM2,5 sebesar 249,2 mikrogram per meter kubik. Kondisi terburuk terjadi sekitar pukul 05.00 Wita.
Sementara di kawasan pusat kota, konsentrasi PM2,5 berada di kisaran 242 mikrogram per meter kubik. Meski terdapat perbedaan angka, keduanya masih masuk kategori sangat tidak sehat.
“Kalau di alat ukur yang ada di APT Pranoto itu memang situasinya saat ini sangat tidak sehat. Ukurannya 249,2 PM. Untuk yang di kota agak berbeda sedikit, tapi tidak begitu jauh, yaitu 242 mikrogram per meter kubik. Tetap kategorinya sangat tidak sehat,” kata Suwarso.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkot Samarinda mengambil sejumlah langkah antisipasi, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan paru dan jantung.
Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi siswa selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu. Kebijakan tersebut akan kembali dievaluasi pada Minggu dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara.
“Karena anak-anak ini masuk kategori rentan, termasuk lansia dan yang memiliki penyakit paru maupun jantung. Maka antisipasi dari pemerintah kota untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh udara pekat ini atau ISPA dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah kota bersama BPBD, Damkar, DLH dan Polresta Samarinda juga menyiapkan upaya penyemprotan air berbentuk embun untuk membantu menekan kondisi udara yang pekat.
Suwarso menyebut, sekitar 35 liter eco enzyme telah dikumpulkan untuk digunakan dalam kegiatan tersebut. Cairan itu nantinya dicampurkan ke dalam air yang disemprotkan menggunakan armada Damkar, BPBD maupun Polresta Samarinda.
“Kalau satu tangki 5 ribu liter, diperlukan 5 liter eco enzyme. Dengan jarak tempuh masing-masing sekitar 10 sampai 15 kilometer. Nanti kita diskusikan melakukan pengaturan,” jelasnya.
Pasokan eco enzyme juga masih akan diupayakan dari kelompok masyarakat maupun komunitas yang melakukan pengolahan bahan tersebut. Jika tambahan pasokan tersedia, penyemprotan dapat dilanjutkan pada hari berikutnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor mengatakan, pemantauan di kawasan bandara menunjukkan konsentrasi PM2,5 sempat meningkat sejak pagi.
Berdasarkan alat pemantau kualitas udara di APT Pranoto, konsentrasi PM2,5 pada sekitar pukul 07.00 hingga 09.00 Wita menunjukkan tren peningkatan, dengan angka pembacaan mencapai sekitar 367 mikrogram per meter kubik.
“Dari jam 7, jam 8 sampai jam 9 trennya cenderung meningkat. Data pembacaan nilainya sekitar 367 mikrogram per meter kubik. Artinya, ini dalam kategori berbahaya bagi kesehatan,” kata Riza.
Selain kualitas udara yang memburuk, jarak pandang di sejumlah kawasan Samarinda dilaporkan menurun hingga sekitar 1 kilometer akibat kabut asap.
Riza meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara belum membaik. Apabila aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat diminta menggunakan masker.
“Dengan indikator kondisi berbahaya ini, saya harapkan kepada masyarakat di Samarinda khususnya kita kurangi beraktivitas di luar. Kalau beraktivitas di luar, tentunya kita harus menggunakan masker,” pungkasnya. (**)