FKPM Loa Buah Keluhkan Jembatan Mahulu, Gubernur Langsung Turun Meninjau
SAMARINDA. Menjadi salah satu sarana penghubung antara Samarinda Kota dan Seberang, namun kondisi Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) belum bisa dikatakan memadai untuk sarana transportasi. Beberapa bagian jembatan dikeluhkan, karena dapat membahayakan pengguna jalan.
Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kelurahan Loa Buah, menyoroti kondisi tersebut dan meminta Pemprov Kaltim melakukan evaluasi.
Ketua FKPM Kelurahan Loa Buah, Sabil Husain mengatakan, pelihaknya meminta kepada gubernur agar lebih memperhatikan kondisi jembatan Mahulu. Bukan sekadar perbaikan sementara, tetapi penanganan yang benar-benar menyelesaikan persoalan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kondisi expansion joint atau sambungan jembatan yang disebut kerap mengalami kerusakan meski telah beberapa kali diperbaiki.
"Kami melihat perbaikan sering dilakukan, tetapi berdasarkan pengamatan warga hanya bertahan sebentar," katanya, Selasa (21/7/2026).
Ia menilai metode tambal sementara justru membuat permukaan sambungan menjadi bergelombang sehingga berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengendara, terutama bagi pengguna jalan yang belum mengetahui kondisi tersebut.
Selain badan jalan, FKPM juga menyoroti minimnya fasilitas pendukung keselamatan seperti penerangan, rambu lalu lintas, kamera pengawas (CCTV), serta kondisi median jalan serta kebersihan di kawasan jembatan.
"Relawan FKPM beberapa kali membantu proses evakuasi ketika ada kecelakaan. Karena itu kami berharap aspek keselamatan menjadi prioritas," jelasnya.
Reaksi cepat pun dilakukan Pemprov Kaltim atas keluhan tersebut. Selasa (21/7/2026) siang, gubernur dan rombongan langsung turun ke lapangan.
Rudy menegaskan, Pemprov Kaltim memang harus bergerak cepat merespons keluhan masyarakat. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim bersama UPTD terkait diklaim telah melakukan perbaikan darurat (patching) pada sambungan pelat (expansion joint) jembatan yang sempat membahayakan pengendara.
Tak sekadar perbaikan struktur jalan, persoalan pencahayaan jembatan juga menjadi sorotan tajam. Gubernur telah menginstruksikan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk melakukan pembenahan total pada sistem penerangan, baik di badan jembatan maupun pada area bawah (kolong) jembatan.
"Lampu yang kurang terang dikasih terang, yang mati dihidupkan kembali, termasuk solar cell kita benahi. Kita juga minta perawatan, pengecatan, hingga keindahan jembatan diperhatikan. Lampu di bagian bawah jembatan sangat vital agar nahkoda kapal bisa melihat jelas ada bentangan jembatan di atasnya," ucap Rudy.
Menariknya, terungkap penyebab di balik sering padamnya lampu di Jembatan Mahulu, pemprov mendapati adanya aksi vandalisme dan pencurian komponen kelistrikan oleh oknum tak bertanggung jawab.
"Banyak MCB (Miniature Circuit Breaker) yang hilang dicuri. Makanya lampunya mati. Kita akan segera pasangkan CCTV untuk mengawasi dan menindak tangan-tangan jahil ini, sekaligus memantau potensi bahaya bagi keselamatan masyarakat," bebernya.
Rudy juga sempat menyindir kondisi Jembatan Achmad Amins atau Mahkota II yang gelap gulita, menurut informasi yang di dapatnya hal itu terjadi karena Pemkot Samarinda defisit anggaran, hal inipun menurut Rudy berbahaya bagi warga yang melintasi jembatan tersebut setiap harinya.
Seringnya insiden pilar jembatan dihantam tongkang batu bara di Sungai Mahakam juga memicu langkah strategis dari Pemprov Kaltim. Mengingat padatnya alur pelayaran pengolongan kapal di kawasan Mahulu, Pemprov berencana mengambil alih pengelolaan alur pengolongan tersebut.
Rencananya, kewenangan tata kelola alur pengolongan yang selama ini dipegang oleh PT Pelindo akan dilimpahkan ke BUMD milik Pemprov Kaltim, yakni PT Mahakam Bergaya Sejahtera (MBS).
"Insya Allah mohon doanya, nanti akan dilimpahkan dari Pelindo kepada MBS, BUMD Pemprov Kaltim, untuk menangani pengolongan ini," pungkasnya. (**)