Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Hujan Hasil OMC Tak Berbahaya, Pesan Berantai hanya Hoaks

Hujan Hasil OMC Tak Berbahaya, Pesan Berantai hanya Hoaks

06 Sep 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Dalam beberapa hari terakhir, pesan berantai terkait hujan hasil operasi modifikasi cuaca (OMC) yang berbahaya jika dikonsumsi, mendapat respon dari Badan Meteorologi, Klimotologi dan Geofisik (BMKG) Samarinda.
Disebutkan dalam pesan tersebut, OMC menggunakan bahan semai untuk memicu pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Kepala BMKG Samarinda, Riza Arian, menjelaskan bahan semai yang digunakan dalam OMC salah satunya adalah natrium klorida (NaCl) atau garam. Bahan tersebut disebarkan untuk memicu awan yang telah memiliki potensi agar berkembang dan menghasilkan hujan.
“Memang kegiatan operasi modifikasi cuaca menggunakan bahan semai untuk men-trigger awan-awan itu agar bisa menjadi hujan. Salah satu bahan semainya adalah NaCl, garam,” jelas Riza, Minggu (6/9/2026).
Namun, penggunaan bahan semai tersebut tidak serta-merta membuat air hujan menjadi berbahaya. Riza menyebut, berdasarkan kajian penelitian BRIN, tidak ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan air hujan antara kondisi normal dan setelah pelaksanaan OMC.
“Selama ini dari kajian penelitian BRIN, tidak ada pengaruh yang terlalu signifikan. Misalnya kondisi normal kandungannya seperti ini, ada OMC juga tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Meski demikian, Riza menegaskan hal tersebut bukan berarti setiap air hujan dapat langsung dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Kualitas air hujan tetap dipengaruhi kondisi atmosfer saat hujan terjadi.
Terlebih, kondisi Kaltim saat ini juga diwarnai aktivitas kebakaran hutan dan lahan. Asap maupun berbagai partikel pencemar yang berada di atmosfer berpotensi ikut terbawa atau tercuci oleh air hujan.
Karena itu, Riza menyarankan masyarakat tidak langsung menggunakan air hujan yang ditampung untuk konsumsi tanpa melalui proses pengolahan maupun pemeriksaan kualitas.
“Bahaya atau tidak bahaya itu harus dimasukkan ke lab. Apalagi sekarang ada kebakaran, berminggu-minggu. Tentu di atmosfer itu macam-macam, ada asap dan lainnya,” katanya.
Menurutnya, fenomena hujan pada dasarnya juga dapat membantu membersihkan atmosfer dari sejumlah partikel dan polutan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menjadikan air hujan yang turun layak dikonsumsi.
“Setiap saat pun air hujan itu sebaiknya diteliti dulu,” tegasnya.
Masyarakat tetap diperbolehkan menampung air hujan. Hanya saja, Riza menyarankan air tersebut diolah terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan, khususnya untuk kebutuhan konsumsi.
“Ditampung boleh, tapi diolah lagi,” pungkasnya. (**)