Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Karhutla Kian Memprihatinkan, Giliran Perum Korpri Dikepung Api

Karhutla Kian Memprihatinkan, Giliran Perum Korpri Dikepung Api

10 Sep 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Padam satu wilayah, muncul lagi titik api baru di wilayah lain. Begitulah gambaran yang terjadi di Samarinda atas kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa pekan terakhir.
Kamis (10/9/2026), karhutla kembali terjadi di Perum Korpri, Jalan Sultan Sulaiman, Pelita 8, Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan. Kebakaran lahan itu terus membesar dan merambat di kawasan semak belukar di belakang permukiman.
Kobaran api bahkan terlihat berada tak jauh dari rumah warga. Kepulan asap putih hingga hitam membumbung tinggi, kemudian bergerak mengikuti arah angin dan menyelimuti kawasan perumahan.
Yang membuat warga semakin cemas, kobaran api terus meluas dan bergerak ke arah kawasan Pulau Atas hingga Makroman. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja cepat untuk mencegah api semakin mendekati kawasan permukiman dan bangunan warga.
Nur Muthaharah (52), salah seorang warga Perum Korpri, mengaku pertama kali melihat kepulan asap sekitar pukul 08.30 Wita.
"Saya lihat dari luar, asapnya naik. Saya langsung lari melihat api," ujarnya.
Saat itu, api masih terlihat kecil. Namun, karena berada di area belakang rumah dan dekat dengan permukiman, Nur langsung melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT setempat.
Menurutnya, kebakaran lahan di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Bahkan, dalam beberapa kejadian sebelumnya, api juga sempat muncul di sekitar blok permukiman.
"Kalau yang ini, api terus jalan. Yang di belakang ini sudah dua kali," katanya.
Nur juga mengaku sempat mendengar suara langkah kaki di sekitar lokasi sebelum kejadian kebakaran sebelumnya. Namun, ia menegaskan tidak menuduh siapa pun sebagai penyebab kebakaran. "Saya tidak menuduh, cuma curiga. Saya tidak mau menyebut orangnya," tuturnya.
Sementara itu, Staf Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Samarinda, Maulana, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 11.30 Wita. Titik api berada di belakang kawasan Blok C2 Perum Korpri.
"Begitu menerima informasi dari masyarakat, kami langsung merespons kejadian kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.
Maulana menyebut kebakaran lahan di kawasan tersebut sudah terjadi berulang kali. Sedikitnya empat hingga lima kejadian pernah terjadi di lokasi maupun kawasan sekitarnya.
Namun, kejadian kali ini dinilai cukup mengkhawatirkan. Api membakar lahan yang dipenuhi semak belukar dan diperparah dengan hembusan angin sehingga kobaran api cepat meluas. "Asapnya luar biasa. Ada asap putih dan hitam. Arah anginnya juga membuat asap cepat menyebar," katanya.
Kondisi tersebut menjadi ancaman serius lantaran lokasi kebakaran berada berdekatan dengan permukiman. Bahkan, BPBD memperkirakan sekitar 15 hingga 20 rumah berada di sekitar kawasan terdampak. Namun, rumah-rumah tersebut disebut dalam kondisi tidak berpenghuni.
Sedangkan warga yang masih menempati rumah di sekitar lokasi diminta melakukan evakuasi mandiri. Warga diarahkan berkumpul di kawasan bundaran perumahan, tepatnya di posyandu.
"Untuk rumah yang berpenghuni, kami arahkan evakuasi mandiri dan berkumpul di bundaran perumahan. Di sana fasilitasnya cukup memadai, termasuk oksigen apabila ada warga yang terlalu banyak menghirup asap," jelasnya.
Di lapangan, petugas BPBD juga mendapat dukungan dari berbagai unsur, termasuk tim pemadam, relawan, serta Info Taruna Samarinda (ITS) yang membantu penanganan dan evakuasi warga.
Meski demikian, proses pemadaman tidak berjalan mudah. Medan yang dipenuhi semak belukar membuat petugas kesulitan menjangkau titik api. Ditambah lagi, sumber air berada cukup jauh dari lokasi.
"Kendalanya sumber air lumayan jauh. Kondisi daerah juga banyak semak belukar sehingga menyulitkan teman-teman melakukan pemadaman," pungkas Maulana.
Hingga pukul 14.00 Wita. Api yang terus menjalar ke arah Pulau Atas dan Makroman menjadi perhatian petugas. Upaya pemadaman pun terus dilakukan agar kobaran tidak semakin meluas dan mengancam lebih banyak permukiman warga. (**)