Operasi Water Bombing Bergerak, 33 Ton Air Diguyurkan dari Udara
SAMARINDA. Segala cara kini dilakukan guna mengurangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Samarinda. Selain memadamkan dari darat, upaya mengurangi karhutla dari udara pun kini dijalankan
melalui operasi water bombing menggunakan helikopter.
Dalam operasi pada Selasa (8/9/2026) sore tersebut, satu titik karhutla di kawasan Bantuas, Kecamatan Palaran, menjadi sasaran utama penyiraman dari udara. Sebanyak 33 kali water bombing dilakukan dengan total air yang dijatuhkan mencapai 33 ribu liter atau sekitar 33 ton.
Captain Dectriyanda selaku pilot helikopter water bombing, mengatakan, sebelum melakukan penyiraman dari udara, tim terlebih dahulu melaksanakan patroli udara untuk memetakan titik panas atau hotspot yang masih aktif.
Patroli tersebut menemukan sejumlah titik yang masih berasap. Di antaranya berada di kawasan Lempake, Samarinda Utara, Air Putih-Bukit Pinang Samarinda Ulu, Bantuas Palaran, hingga Makroman.
"Untuk Lempake targetnya sudah clear karena sudah dilakukan pemadaman oleh pihak darat. Kemudian di Air Putih, Bukit Pinang masih berasap. Yang cukup tebal ada di Bantuas, Palaran," ujarnya, Rabu (9/9/2027).
Selain titik-titik tersebut, dalam perjalanan atau enroute, kru helikopter juga menemukan hotspot di kawasan Samarinda Dalam, Bukar, serta wilayah Sungai Meriam, Anggana. Kondisi di beberapa lokasi tersebut masih menunjukkan asap cukup tebal.
Kondisi paling membutuhkan penanganan dari udara ditemukan di Bantuas. Api dan asap yang masih aktif membuat tim memutuskan melakukan water bombing.
"Untuk Bantuas, Palaran, kami melakukan sebanyak 33 kali water bombing. Satu kali water bombing volumenya 1.000 liter. Jadi totalnya 33.000 liter atau 33 ton," jelasnya.
Namun, guyuran air dari udara belum sepenuhnya membuat titik api padam. Setelah 33 kali penyiraman, hotspot masih terlihat mengeluarkan asap.
Meski demikian, kondisi asap setelah penyiraman disebut jauh berkurang dibandingkan sebelum water bombing dilakukan.
"Sebelumnya itu memang tampak sekali asapnya sangat-sangat tebal. Setelah water bombing masih berasap, tetapi tidak separah sebelumnya," katanya.
Operasi kemudian dihentikan sementara dan helikopter kembali ke pangkalan karena kondisi waktu yang memasuki batas operasional penerbangan.
"Untuk operasi kami 30 menit setelah matahari terbit dan 30 menit sebelum matahari terbenam," terangnya.
Di sisi lain, helikopter yang digunakan dalam operasi ini merupakan jenis Airbus AS350B3E. Helikopter buatan Prancis tersebut memiliki kapasitas enam kursi, termasuk satu kursi pilot.
Dectriyanda menjelaskan, dalam operasi normal biasanya helikopter membawa satu pilot dan satu Helicopter Landing Officer (HLO). Untuk patroli udara, helikopter memiliki daya jelajah atau endurance sekitar tiga hingga 3,5 jam.
Namun, durasi tersebut berkurang ketika digunakan untuk water bombing karena harus membawa beban air hingga satu ton.
"Kalau untuk water bombing karena load-nya berat, sebesar satu ton untuk menampung air, bahan bakar kami kurangi. Kalau full tank sekitar 427 liter, untuk water bombing biasanya menggunakan fuel sekitar 350 liter. Endurance-nya kurang lebih 2,5 jam," jelasnya.
Sementara itu, PLH Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kaltim, Sugeng Priyanto, mengatakan patroli udara menjadi bagian penting dalam menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan dari udara.
Patroli dilakukan untuk memastikan titik panas yang ditemukan benar-benar aktif dan membutuhkan dukungan water bombing. Data dari udara tersebut kemudian menjadi bahan koordinasi dengan tim di darat.
Operasi water bombing ini menjadi salah satu strategi untuk menjangkau titik-titik karhutla yang sulit ditangani secara maksimal oleh pasukan darat. Terutama lokasi yang memiliki vegetasi tebal dan titik api yang masih aktif.
Meski 33 ton air telah dijatuhkan dari udara, asap yang masih terlihat menjadi tanda bahwa penanganan belum sepenuhnya selesai.
"Tim terpadu pun harus melakukan pemantauan dan memastikan bara di bawah permukaan benar-benar padam agar api tidak kembali membesar," tukas Sugeng. (**)