Pembeli di Pasar Tradisional Sepi, Imbas Harga Daging Sapi yang Tinggi

Pembeli di Pasar Tradisional Sepi, Imbas Harga Daging Sapi yang Tinggi

28 Jul 2026 | Pemerintahan

SAMARINDA. Para pedagang daging sapi di Kota Samarinda terutama di pasar-pasar tradisional, mengeluhkan tingginya harga. Sebab hal itu berimbas langsung pada turunnya minat beli masyarakat.
Kondisi ini salah satunya terlihat di Pasar Segiri Samarinda. Yanur, salah seorang pedagang daging di pasar terbesar di Kota Samarinda ini mengungkapkan, omzet penjualannya merosot tajam akibat minimnya peminat.
"Mungkin dipengaruhi dari harga juga, tinggi harganya," ujar Yanur.
Yanur membeberkan, harga daging sapi impor kini melambung ke kisaran Rp 150 ribu per kilogram, dari yang sebelumnya hanya sekitar Rp 125 ribu. Sementara untuk daging sapi segar lokal, harganya kini menyentuh angka Rp 160 ribu per kilogram. Lonjakan harga ini berdampak nyata pada volume penjualannya harian.
"Untuk penjualan, sebelumnya bisa sampai menjual 20 kilogram setiap hari. Sekarang paling 2 kilogram saja," imbuhnya.
Senada dengan Yanur, pedagang daging lainnya, Firman, menyebut tren kenaikan harga daging sapi ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, dampak kenaikan harga sangat terasa pada perubahan perilaku belanja pelanggan setianya.
"Pembeli yang biasanya beli tiap hari, kini paling 2 atau 3 hari baru beli lagi," beber Firman.
Pedagang hanya bisa berharap dengan pemilik warung atau tempat usaha makanan yang menjadi langganan mereka.
Kelesuan di lapak daging ini berbanding terbalik dengan komoditas cabai. Bahan dapur yang sebelumnya sempat membuat dompet warga "pedas" hingga menyentuh Rp 200 ribu per kilogram tersebut, dalam beberapa hari terakhir justru berangsur landai. Saat ini, harga cabai di pasaran sudah berangsur normal dan bertengger di kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. "Biasanya memang harga cabai memang mahal, belakangan sudah turun," ungkap salah seoramg pedagang sayur yang juga berjualan di area Pasar Segiri. (**)