60 Atlet Berlaga di Kurash Kalimantan Open Tournament 2026

60 Atlet Berlaga di Kurash Kalimantan Open Tournament 2026

10 Jul 2026 | Olahraga

SAMARINDA. Regenerasi menjadi pekerjaan rumah terbesar Federasi Kurash Indonesia (Ferkusi) Kaltim. Berbeda dengan sebagian besar cabang olahraga, Kurash membatasi usia atlet hingga 28 tahun untuk putra dan 26 tahun bagi putri. Tanpa pembinaan berjenjang sejak level kadet dan junior, Kaltim berisiko kehilangan stok atlet ketika generasi senior memasuki batas usia bertanding.
Hal itu menjadi alasan Ferkusi Kaltim menggelar Kalimantan Open Tournament Kurash 2026, yang dirangkai dengan pelatihan pelatih dan wasit lisensi C nasional. Ajang yang awalnya dirancang sebagai evaluasi pembinaan daerah itu berkembang menjadi kompetisi berskala nasional setelah diikuti peserta lintas provinsi.
Sekretaris Umum Ferkusi Kaltim, Rudi Hartono, mengatakan perubahan status tersebut diputuskan setelah berkoordinasi dengan PB Ferkusi.
Sebanyak delapan dari 10 kabupaten dan kota di Kaltim ambil bagian dalam kejuaraan tersebut. Hanya Kutai Barat dan Mahakam Ulu yang belum mengirimkan kontingen. Kalimantan Utara turut meramaikan persaingan, sementara Kalimantan Selatan batal berpartisipasi.
"Setelah kami koordinasi dengan pusat, ternyata ini masuk event nasional karena melibatkan lintas provinsi. Yang hadir Kaltim dan Kalimantan Utara. Kalsel sebenarnya juga ingin ikut, tetapi terkendala anggaran dan pendaftaran anak-anak sekolah," paparnya, di Gedung Beladiri BEHEMPAS, Komplek GOR Segiri Samarinda, Jumat (10/7/2026).
Rudi menegaskan, orientasi utama penyelenggaraan bukan mengejar prestasi sesaat, melainkan mengukur hasil pembinaan yang selama ini dilakukan daerah.
"Tanpa pertandingan seperti ini, evaluasi pembinaan akan sulit dilakukan. Karena itu kami ingin melihat sejauh mana hasil pembinaan yang sudah dilakukan kabupaten dan kota," katanya.
Kejuaraan itu juga menjadi bagian dari persiapan menuju Porprov VIII Kaltim di Kabupaten Paser 14-27 November mendatang.
Bersamaan dengan pertandingan, Ferkusi menggelar pelatihan wasit dan pelatih lisensi C nasional untuk memenuhi kebutuhan perangkat pertandingan dan pembinaan atlet.
Dijelaskan Rudi, Ferkusi sebenarnya hanya membutuhkan tujuh wasit berlisensi C nasional untuk Porprov. Kesempatan mengikuti pelatihan yang tergolong langka membuat jumlah peserta melampaui kebutuhan.
Sebanyak 18 orang mengikuti pelatihan, terdiri atas perwakilan sembilan kabupaten dan kota serta seluruh pelatih Kurash di Kaltim.
Ferkusi memandang keberadaan pelatih dan wasit berlisensi menjadi bagian penting dari pembangunan prestasi. Sertifikasi tersebut juga menjadi syarat bagi mereka yang akan bertugas pada Porprov VIII.
Persoalan terbesar yang kini dihadapi justru berada pada keberlanjutan atlet. Berbeda dengan cabang olahraga lain, Kurash memiliki batas usia yang membuat atlet tidak dapat berkarier terlalu lama. Kondisi itu memaksa organisasi menyiapkan regenerasi secara berjenjang.
"Kalau kadet dan junior tidak kami siapkan dari sekarang, nanti ketika atlet senior selesai masa usianya kami akan kesulitan. Regenerasi di Kurash memang tidak bisa ditunda," tegas Rudi.
Apabila kemudian atlet senior sudah tidak lagi memenuhi syarat tampil di Porprov karena usianya telah melewati batas, maka akan diarahkan beralih menjadi pelatih.
"Setelah tidak bisa menjadi atlet, kami berharap mereka menjadi pelatih dan pembina bagi adik-adiknya. Di Kurash memang estafet itu harus disiapkan," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Suryadi mengatakan, kejuaraan kali ini mempertandingkan 15 kelas pada kategori kadet dan junior dengan total sekitar 60 atlet.
Komposisi peserta didominasi atlet junior, sedangkan sisanya berasal dari kategori kadet.
"Kegiatan ini menjadi langkah awal memperkuat pembinaan usia dini supaya muncul bibit-bibit baru yang bisa dibina hingga ke jenjang berikutnya," ujarnya. (**)