Anggota DPRD Kukar dan Rita Widyasari Sesalkan Nasib Taman Replika di Tenggarong

Anggota DPRD Kukar dan Rita Widyasari Sesalkan Nasib Taman Replika di Tenggarong

28 Jun 2026 | Daerah

TENGGARONG. Tak bisa dimungkiri jika Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki banyak potensi pariwisata yang seharusnya mampu jadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya. Salah satunya adalah Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia, di Jalan Anggana, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong. Namun sangat disayangkan, objek wisata dibangun pada 2015 lalu dengan anggaran mencapai Rp 23 miliar lebih, kini diterlantarkan dan terancam semakin rusak.
“Harapan saya bisa diteruskan pembenahan dan pemeliharaan. Setelah kita cek tadi, ada rusak dan segala macam. Itu perlu perbaikan. Memang dengan kondisi efisiensi anggaran daerah saat ini, dapat dimaklumi. Namun semestinya tetap bisa dibenahi. Karena sayang lahan dan bangunan sudah ada di sini, tinggal bagaimana kita meneruskan. Melakukan pemeliharaan kemudian dibuka untuk umum, sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Raja. Maka ke depan dapat menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) kita,” ujar anggota DPRD Kukar, Fatlon Nisa.
Minggu (28/6/2026) pagi, Fatlon, anggota DPRD Kukar asal PDIP ini mengunjungi objek wisata itu. Tidak sendiri, kehadiran Fatlon ke Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia letaknya berdampingan dengan Museum Kayu serta Waduk Panji Tenggarong itu, bersama mantan Bupati Kukar, Rita Widyasari.
“Jangan sampai taman ini terus dibiarkan terbengkalai. Sampai nanti kerusakannya semakin parah atau bahkan habis tak tersisa. Karena pembangunan aset daerah ini kan menggunakan APBD Kukar. Itu merupakan uang rakyat. Sehingga jangan disia-siakan,” kata Fatlon.
Memang dari pantauan harian ini di lapangan, kondisi Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia tersebut sangat memprihatinkan. Sejumlah fasilitas pendukung berupa gazebo untuk tempat duduk santai pengunjung, sebagian besar sudah rusak. Tak hanya lapuk dimakan usia serta tak dirawat, tapi lebih banyak karena material bangunannya dicuri oknum tak bertanggungjawab.
Begitu pula dengan kondisi sejumlah bangunan miniatur yang ada, yakni Kedaton Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura, Candi Tikus Kerajaan Majapahit, Candi Mahligai serta Kerajaan Sriwijaya, Istana Kerajaan Tanjung Palas dan Istana Gunung Tabur. Tidak ketinggalan miniatur Menara Eiffel dan Menara Pisa. Di sekitarnya disasar semak belukar dan banyak berserakan sampah bekas kemasan air minum atau makanan ringan.
“Bayangkan jika taman ini dipelihara baik serta dikelola maksimal, pasti menambah daya tarik wisatawan berkunjung ke Tenggarong. Dulu kan membangun fasilitas ini pakai APBD, bukan uang pribadi. Sangat disayangkan ‘political will’ pemerintah daerah selanjutnya, tidak tajam. Sehingga fasilitas dibangunan ini terbengkalai. Saya berharap nanti ada investor supaya objek wisata ini berkembang di masa depan,” ucap Rita. (**)