Belanda Tersingkir Virgil Van Dijk Dituding jadi Biang Keladinya
ROTTERDAM. Tersingkirnya Belanda dari Piala Dunia 2026 usai kalah dari Maroko lewat adu penalty, memicu gelombang kritik di Negeri Kincir Angin.
Salah satu yang menjadi sasaran utama adalah kapten tim, Virgil van Dijk.
Bek berusia 34 tahun itu mendapat sorotan tajam dari jurnalis De Telegraaf, Valentijn Driessen, yang menilai performanya menjadi salah satu penyebab kegagalan Belanda melaju ke babak 16 besar.
Dalam artikelnya, Driessen melontarkan kritik pedas kepada Van Dijk. Ia menyebut bek Liverpool itu sudah "selesai" dan bahkan menuduhnya telah "mengkhianati segalanya yang diperjuangkan tim nasional kami."
Menurut Driessen, Belanda bahkan harus mengubah cara bermain mereka demi menutupi penurunan performa sang kapten.
Kritik tersebut muncul setelah Belanda gagal mempertahankan keunggulan. Cody Gakpo sempat membawa Oranje unggul pada menit ke-72, tetapi Maroko menyamakan skor pada menit pertama masa injury time sebelum akhirnya menang lewat adu penalti.
Driessen menilai posisi van Dijk saat proses gol penyama kedudukan turut menjadi penyebab kegagalan timnya.
Usai pertandingan, van Dijk mengaku masih sulit menerima hasil tersebut.
"Ini sangat sulit untuk menganalisisnya sekarang. Pertandingan yang intens. Saya pikir kami terorganisir dengan baik dalam bertahan," ujarnya.
Menurutnya, strategi Belanda sebenarnya berjalan sesuai rencana karena mampu membatasi ruang antarlini yang biasa dimanfaatkan Maroko.
"Pada dasarnya mereka tidak bisa menemukan pemain yang bebas di antara lini pertahanan. Jadi rencana permainan kami berhasil, tentu saja. Saya pikir kami mencetak gol yang bagus," kata bek Liverpool tersebut.
Namun, ia mengakui tim kehilangan kendali pada menit-menit akhir.
"Pada akhirnya, di waktu tambahan, kami terdesak. Kemudian berlanjut ke adu penalti; sayangnya, kami tersingkir," katanya lagi.
Van Dijk juga menilai pendekatan defensif bukan hanya dilakukan Belanda.
"Jika Anda melihat hampir semua tim besar di Piala Dunia: mereka juga hanya bertahan dan menunggu momen yang tepat untuk memberikan tekanan," sebutnya.
Ia menambahkan bahwa tim sebenarnya sudah bekerja keras mempersiapkan pertandingan.
"Kami berlatih keras selama dua hari; terkadang berjalan dengan baik. Tentu saja, selalu ada hal-hal yang dapat ditingkatkan, tetapi bagaimanapun, itu tidak membantu kami saat ini," ujarnya.
Selain performanya selama pertandingan, van Dijk juga dikritik karena tidak ikut menjadi eksekutor dalam adu penalti.
Padahal, Maroko membuka peluang bagi Belanda setelah Neil El Aynaoui gagal mengeksekusi penalti pertama.
Namun, Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville justru gagal menjalankan tugas mereka, sehingga Belanda harus tersingkir.
Pelatih Ronald Koeman kemudian menjelaskan bahwa van Dijk sebenarnya masuk dalam daftar penendang penalti, tetapi mengalami masalah pada betis sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil tendangan.
Kekalahan dari Maroko juga memunculkan pertanyaan mengenai masa depan van Dijk di tim nasional.
Van Dijk belum memberikan kepastian apakah masih akan melanjutkan karier internasionalnya setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
Meski mendapat kritik keras dari sebagian media, van Dijk tetap menilai kekalahan tersebut merupakan hasil yang harus diterima bersama sebagai sebuah tim, bukan kesalahan satu individu semata. (**)