Di Piala Dunia 2026, Iran Merasa Diskriminasi Masih Terjadi
LOS ANGELES. Perlakuan terhadap Timnas Iran selama Piala Dunia 2026 membuat Iran Amir Ghalenoei, pelatih Iran kecewa. Ghalenoei mengklaim bahwa dirinya diabaikan oleh para pelatih dari tim lain, sekaligus mengeluhkan kekacauan perjalanan yang dialami skuad Iran menjelang laga penting fase grup.
Iran tiba di Los Angeles pada Sabtu (20/6) siang waktu setempat, untuk menghadapi Belgia dalam laga kedua Grup G yang berlangsung di SoFi Stadium. Namun, perjalanan itu disebut tidak berjalan mulus, bahkan menambah beban mental bagi tim. Ghalenoei menilai timnya tidak mendapatkan perlakuan yang adil dari penyelenggara turnamen.
Sang pelatih menyebut Iran seperti dirampok kesempatan untuk mempersiapkan diri secara optimal akibat berbagai kendala di luar lapangan.
“Kami menghadapi banyak tantangan, terutama di luar lapangan. Saya sempat mengajukan pertanyaan kepada 47 pelatih lainnya, tetapi tidak satu pun yang merespons,” ujar Ghalenoei dikutip dari The Telegraph.
Saat ditanya apakah ia merasakan dukungan dari pelatih tim lain, Ghalenoei dengan tegas menjawab tidak. Ghalenoei juga menyinggung pernyataan pelatih Belgia, Rudi Garcia yang menekankan bahwa turnamen ini seharusnya fokus pada sepak bola, bukan politik.
“Keluhan kami terkait dengan cara penyelenggara memperlakukan kami. Saya tidak mendapat tanggapan dari pelatih lain. Mungkin mereka sibuk dengan tim masing-masing, tetapi jika saya berada di posisi mereka, saya akan merespons,” tambahnya.
Selain itu, Ghalenoei juga mengungkap kegagalan FIFA dalam mengatasi masalah perjalanan timnya. Ghalenoei menjelaskan bahwa pada Jumat (19/6), pihak FIFA sempat menawarkan kemungkinan penerbangan ke Amerika Serikat pada pukul 18.00 waktu setempat. Namun, rencana itu tidak pernah terealisasi.
“Mereka menelepon saya dan bertanya apakah kami siap jika diberangkatkan pukul 18.00. Saya menyambut baik, tetapi kami hanya menunggu tanpa kepastian. Kami menunggu hingga pukul 19.00 dan akhirnya diberi tahu bahwa itu tidak bisa dilakukan. Hal ini jelas memengaruhi kondisi mental kami, terutama saya sebagai pelatih kepala,” jelasnya.
Meskipun demikian, Ghalenoei tetap mengapresiasi upaya FIFA sekalipun hasilnya belum memuaskan. “Saya tahu FIFA sedang berusaha sebaik mungkin, saya berterima kasih kepada mereka untuk itu, tetapi bukan berarti mereka telah berhasil,” lanjut Ghalenoei.
Di tengah situasi itu, Iran mendapat sedikit kelonggaran setelah pemerintah Amerika Serikat, melalui Satuan Tugas Piala Dunia yang dipimpin Andrew Giuliani, membuka peluang pelonggaran pembatasan perjalanan. Ghalenoei mengungkapkan bahwa timnya akhirnya diberikan izin khusus untuk terbang ke Seattle dua hari lebih awal sebelum laga terakhir fase grup melawan Mesir.
Dalam aturan FIFA, tim hanya diperbolehkan melakukan perjalanan dua hari sebelum pertandingan dalam kondisi luar biasa. Sebelumnya, Belgia juga mendapat izin serupa untuk terbang dari Seattle ke Los Angeles.
“Sepertinya sekarang kami diizinkan berangkat lebih awal ke Seattle. Saya berharap kebijakan ini sudah diterapkan sejak dua pertandingan awal, bahkan jika memungkinkan kami datang dua minggu sebelum laga pertama agar bisa berada dalam kondisi terbaik. Kesempatan itu diambil dari kami,” kata Ghalenoei.
Pelatih berusia 62 tahun itu juga menyoroti waktu persiapan yang sangat terbatas jelang pertandingan melawan Belgia dengan jeda kurang dari 18 jam sejak kedatangan tim.
“Saya rasa ini merupakan bentuk ketidakadilan yang kami terima. Saya berharap dunia bisa mencapai perdamaian dan perilaku seperti ini tidak menjadi hal yang biasa dalam Piala Dunia,” tegasnya.
Iran sendiri saat ini menempati posisi kedua klasemen Grup G setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru dan imbang 0-0 melawan Belgia. Puncak klasemen diduduki Mesir dengan perolehan empat poin setelah tumbangkan Selandia Baru. Selanjutnya, Iran akan menghadapi Mesir pada laga terakhir Grup G pada 27 Juni di Seattle. (**)