Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Imbas Kemarau, Warga Bayur Ambil Air Parit untuk MCK

Imbas Kemarau, Warga Bayur Ambil Air Parit untuk MCK

02 Sep 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Dampak buruk kemarau panjang di Samarinda kian terasa. Hal itu dirasakan warga di kawasan Bayur, Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Sumber air bersih yang selama ini mengandalkan sumur warga mulai mengering. Kondisi itu membuat sebagian warga terpaksa mengambil air dari parit untuk memenuhi kebutuhan mandi dan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut salah satunya dialami Arnayan (53), warga Bayur. Ia mengaku sudah sekitar sebulan harus mencari sumber air alternatif lantaran sumur di rumahnya tidak lagi mampu menyediakan air dalam jumlah yang cukup, Rabu (2/9/2026).
"Terutama air kering ini, Pak. Iya, nggak ada sih yang lain daripada air," ujar Arnayan.
Menurutnya, sumur yang selama ini menjadi sumber air utama di rumahnya kini nyaris kering total. Jika beruntung, ia hanya mendapatkan sekitar dua jeriken air setiap sore.
"Kita pakai sumur, kering lah. Akhirnya dapat paling dua jeriken setiap sore," katanya.
Kondisi tersebut membuat Arnayan harus mengambil air dari parit yang berada di sekitar permukiman. Air itu kemudian digunakan untuk kebutuhan mandi dan aktivitas sehari-hari.
Bagi Arnayan, mengambil air dari parit menjadi pilihan terpaksa dibandingkan harus terus membeli air. Sebab, air yang dibeli dengan harga cukup mahal hanya mampu bertahan beberapa hari.
"Soalnya beli tiga hari habis, tiga hari habis. Wah, saya bilang mending ambil saja," tuturnya.
Ia menyebut harga air yang dibeli warga berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung sumber dan jarak pengambilan. "Rp 100 ribu, Rp 120 ribu umum lah. Paling besar Rp 150 ribu," ungkapnya.
Arnayan menjelaskan kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama dan dirasakan semakin berat ketika sumber air di rumah benar-benar tidak lagi mencukupi.
"Ini memang kering. Kering total sih ada, tadi paling dua jeriken saja," keluhnya.
Keluhan serupa juga dirasakan Sulami (39), warga Bayur lainnya. Ia turut merasakan sulitnya mendapatkan air bersih selama musim kemarau berlangsung.
Kondisi sumur yang mulai mengering membuat kebutuhan air bersih sehari-hari menjadi persoalan bagi warga.
"Kami harus mencari sumber air alternatif agar aktivitas rumah tangga tetap berjalan," kata Sulami.
Bagi warga, air menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Selain untuk mandi dan mencuci, air juga diperlukan untuk
berbagai aktivitas keluarga dan kegiatan masyarakat di lingkungan sekitar.
Kekeringan yang terjadi pun membuat warga harus mengatur penggunaan air sehemat mungkin. Sebagian warga memilih membeli air, sementara lainnya memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di sekitar permukiman.
Warga berharap ada perhatian terhadap kebutuhan air bersih selama musim kemarau. Mereka berharap pasokan air dapat menjangkau kawasan Bayur sehingga warga tidak terus bergantung pada sumber air alternatif.
Di tengah kemarau yang belum berakhir, warga Bayur kini harus berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar. Sumur yang mengering membuat air yang sebelumnya mudah didapat kini menjadi barang berharga, bahkan sebagian warga harus mengambilnya dari parit untuk sekadar memenuhi kebutuhan MCK. (**).