Setelah Andres Escobar, Kini Giliran Jaminton Campaz Diancam Dibunuh Suporter Kolombia
BOGOTA. Kegagalan membawa Kolombia melangkah jauh di Piala Dunia 2026, membuat Jaminton Campaz tak berani pulang ke negaranya.
Campaz dikabarkan mendapat ancaman pembunuhan yang usai gagal memanfaatkan peluang emas saat menghadapi Swiss.
Laporan Daily Mail yang mengutip media Argentina, Infobae, menyebut, Campaz memilih tetap berada di luar Kolombia demi alasan keamanan setelah kekalahan pada babak 16 besar.
Kolombia sendiri harus angkat koper setelah kalah 3-4 melalui adu penalti. Pertandingan sebelumnya berakhir imbang tanpa gol hingga babak tambahan waktu.
Campaz sebenarnya memiliki kesempatan emas untuk memastikan kemenangan Kolombia menjelang akhir pertandingan. Namun, saat tinggal berhadapan dengan kiper, tendangannya justru melambung di atas mistar gawang.
Meski sukses menjalankan tugasnya sebagai algojo dalam adu penalti, Kolombia tetap gagal melaju ke perempat final.
Tak lama setelah pertandingan berakhir, pemain berusia 26 tahun itu menjadi sasaran hujatan dan ancaman pembunuhan melalui media sosial.
Sejumlah pemain Kolombia seperti James Rodriguez, Davinson Sanchez, dan Juan Fernando Quintero dilaporkan telah kembali ke Bogota dari Vancouver pada Kamis (16/7/2026). Namun, Campaz tidak berada dalam rombongan tersebut.
Belum diketahui apakah Campaz masih bertahan di Amerika Utara atau memilih kembali ke Argentina, tempat ia memperkuat Rosario Central.
Melalui akun Instagram pribadinya, Campaz meminta masyarakat menghentikan aksi kebencian dan tetap mengedepankan rasa hormat.
"Kolombia tercinta, jangan pernah kehilangan rasa hormat. Kita boleh memiliki pandangan berbeda, merasa kecewa atau sedih, tetapi tidak ada gairah yang membenarkan kebencian ataupun membuat seseorang hidup dalam ketakutan," tulis Campaz.
"Saya sangat menyesal tidak bisa memberikan kebahagiaan yang kita semua harapkan. Namun, saya tidak pernah kekurangan dedikasi, komitmen, maupun kecintaan terhadap seragam tim nasional ini," lanjutnya.
"Saya telah memberikan seluruh kemampuan saya di lapangan, dan saya akan melakukannya lagi seribu kali demi negara saya," katanya lagi.
Kasus yang menimpa Campaz kembali mengingatkan publik pada tragedi yang dialami mantan bek Kolombia, Andres Escobar, setelah Piala Dunia 1994.
Escobar ditembak hingga tewas di luar sebuah klub malam di Medellin, beberapa hari setelah mencetak gol bunuh diri saat Kolombia kalah dari Amerika Serikat pada fase grup.
Federasi Sepak Bola Kolombia turut mengecam ancaman yang diterima Campaz dan meminta Kejaksaan Agung Kolombia segera melakukan penyelidikan.
"Tidak ada atlet maupun anggota keluarganya yang seharusnya menerima intimidasi hanya karena membela negaranya di arena olahraga," demikian pernyataan federasi.
"Sepak bola harus menjadi ruang untuk persatuan, rasa hormat, dan harapan, bukan tempat bagi kebencian, intimidasi, atau kekerasan," tegasnya. (**)