Bidukbiduk Masih Jadi Primadona saat Libur Lebaran
TANJUNG REDEB. Lonjakan kunjungan wisatawan pada momen libur Idulfitri tahun ini, membawa dampak signifikan bagi sektor pariwisata di Kecamatan Bidukbiduk.
Tingginya animo masyarakat untuk berlibur ke destinasi pesisir tersebut, bahkan mendorong munculnya peluang usaha baru khususnya di bidang akomodasi alternatif seperti glamping dan homestay.
Camat Bidukbiduk, Cipto Supratmono, mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, jumlah wisatawan yang masuk sejak hari pertama Idulfitri mencapai lebih dari 12 ribu orang.
“Sampai saat ini mencapai kurang lebih 12.266 pengunjung dari hari pertama Idulfitri,” ujarnya.
Tingginya angka kunjungan ini berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan tempat menginap.
Namun, keterbatasan jumlah penginapan yang tersedia membuat banyak wisatawan kesulitan mendapatkan akomodasi, terutama di lokasi-lokasi favorit.
Cipto menjelaskan, kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi masyarakat lokal maupun investor untuk mengembangkan usaha penginapan.
“Kami membuka kesempatan kepada masyarakat dan pihak investor untuk membuka penginapan,” katanya.
Ia juga menyebut, warga bisa memanfaatkan rumah pribadi sebagai homestay untuk menampung wisatawan yang tidak mendapatkan penginapan.
Selain itu, Cipto mengingatkan pentingnya koordinasi antara pengelola wisata dengan pemerintah dan pihak terkait guna menjaga kenyamanan serta keamanan pengunjung.
“Kami mengharapkan pengelola tempat wisata selalu berkoordinasi dengan kecamatan, pihak keamanan dan kesehatan serta pemerintah kampung,” tegasnya.
Adapun sejumlah destinasi wisata yang menjadi primadona selama libur Lebaran di Bidukbiduk antara lain Labuan Cermin, Pulau Kaniungan, Lamin Guntur dan sekitarnya, serta Pantai Sungai Serai.
Keempat lokasi tersebut tercatat mengalami lonjakan kunjungan paling tinggi dibandingkan destinasi lainnya.
Sementara Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, menilai kondisi keterbatasan akomodasi ini dapat menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat.
Ia menyoroti potensi pengembangan glamping sebagai alternatif penginapan yang fleksibel dan menarik bagi wisatawan.
Menurutnya, konsep glamping sangat memungkinkan diterapkan di Bidukbiduk yang memiliki banyak lahan terbuka.
“Ini jadi peluang yang bagus untuk pokdarwis dan BUMK, misalnya penyediaan alternatif glamping,” jelasnya.
Samsiah menambahkan, glamping dapat disiapkan secara musiman menyesuaikan momentum kunjungan wisatawan, seperti saat libur panjang atau hari besar keagamaan. “Banyak lahan luas, mungkin per momentum saja,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga menyarankan agar wisatawan mulai mempertimbangkan alternatif lokasi menginap di kampung-kampung sekitar Bidukbiduk.
“Kalau tidak dapat akomodasi, bisa menginap di Tembudan, Batu Putih, atau Dumaring dan Talisayan,” katanya.
Menurut Samsiah, pola penyebaran wisatawan ke wilayah sekitar ini tidak hanya membantu mengatasi keterbatasan penginapan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah penyangga. “Ini bisa jadi lahan rezeki wilayah sekitar,” tuturnya.
Ia pun kembali menegaskan bahwa momentum lonjakan wisatawan seperti saat ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh berbagai pihak, mulai dari masyarakat, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga badan usaha milik kampung (BUMK). “Ini peluang bagus yang bisa dimanfaatkan,” tandasnya.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat setiap tahunnya, pengembangan akomodasi alternatif seperti glamping dan homestay.
Dinilai menjadi solusi strategis untuk mendukung pertumbuhan pariwisata di Bidukbiduk, sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan. (**)