Pemkot Samarinda Rancang Program Jangka Panjang, Palaran Dipersiapkan Jadi Lumbung Daging dan Telur
SAMARINDA. Pemerintah Kota Samarinda kini tengah merancang program untuk menjadi salah satu penopang ekonomi di Ibu Kota Nusantara (IKN). Salah satu yang tengah dipersiapkan adalah menyulap kawasan Palaran sebagai lumbung raksasa produksi daging dan telur. Strategi jangka panjang ini digeber bukan hanya demi memperkuat kemandirian pangan lokal, tetapi juga menangkap peluang empuk lonjakan permintaan pangan saat pusat pemerintahan resmi berpindah ke Kaltim.
Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat fondasi ekonomi daerah. Terutama dalam hal menjinakkan hantu inflasi dan menjaga stabilitas harga bapokting (bahan pokok penting) di pasar.
"Yang paling takut itu kan inflasi ini. Semua kan lagi naik ini. Nah, kita upayakan untuk mengintervensi ini dengan pendekatan kepada distributor, dan pendekatan kepada penjual-penjual yang eceran. Tugas pemerintah kan menstabilkan itu," ucapnya.
Marnabas tak menampik jika daya beli masyarakat saat ini sedang megap-megap menghadapi tekanan ekonomi. Alasan inilah yang membuat Pemkot Samarinda memilih pasang badan memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Belajar dari sejarah kelam krisis moneter 1998, sektor UMKM terbukti menjadi juru selamat dan penopang utama ekonomi arus bawah.
Tak sendirian, Pemkot Samarinda menggandeng Dinas Ketahanan Pangan dan Bank Indonesia untuk rutin menggelar operasi pasar, seperti gerakan pangan murah dan pasar murah secara berkala. Namun, Marnabas mengingatkan, intervensi pasar ini ibarat membawa pisau bermata dua. Jika terlalu kebablasan, dampaknya bisa fatal bagi pedagang.
"Tapi ingat ya, kita enggak boleh terlalu masif juga, nanti terjadi deflasi malah. Jadi tugas pemerintah itu memang harus imbang gitu lah, memang tugas kita gitu. Variniaga kita persiapkan terus, apa sih yang nanti akan muncul harga menjadi mahal," bebernya.
Selama ini, urusan isi piring warga Samarinda memang masih mengandalkan belas kasihan pasokan dari luar daerah, seperti Sulawesi dan Jawa. Ketergantungan akut inilah yang ingin diputus oleh Pemkot Samarinda dengan mempersiapkan Palaran sebagai pusat peternakan ayam potong dan ayam petelur skala besar.
Langkah ini mendesak dilakukan demi mengantisipasi potensi kelangkaan pangan akibat cuaca ekstrem maupun seretnya produksi di daerah asal penyuplai.
"Tiap Senin itu kita rapat dengan Kemendagri. Kemudian setelah rapat kita pelajari lagi perkembangan luar. Karena barang-barang kita ini kan dari luar daerah juga, bagaimana posisi di sana, kita pantau terus itu," tegasnya.
Bukan cuma urusan perut, pembenahan wajah kota juga terus dikebut. Mulai dari penataan ruang terbuka hijau, revitalisasi pasar-pasar tradisional yang kumuh, pembenahan destinasi wisata, hingga penyediaan fasilitas bermain anak di tiap kelurahan. Semua dilakukan demi meningkatkan daya saing Samarinda sebagai kota penyangga.
Marnabas melempar warning bahwa Samarinda harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dan siap menghadapi ledakan aktivitas ekonomi saat IKN beroperasi penuh. Samarinda harus mandiri dan tidak boleh lembek menangkap peluang ekonomi yang ada.
"Kita sebenarnya mendorong juga supaya ke depan kita harus bisa mandiri. Pelan-pelan kita harus bisa mandiri untuk penyediaan pangan kita. Karena suka tidak suka, kalau IKN nanti itu berjalan, Samarinda ini barang manis," pungkasnya. (**)