Evolusi Perbudakan, Dari Rantai Besi ke Notifikasi

Evolusi Perbudakan, Dari Rantai Besi ke Notifikasi

08 Mar 2026 | Evergreen

Kita sering merasa kasihan pada kisah-kisah budak masa lalu. Tapi, jika dibedah secara sosiologi, apakah nasib pekerja modern benar-benar lebih baik?

Di zaman Nabi, sistem Nafaqah berlaku mutlak. Tuan wajib memberi makan budak dengan makanan yang dia makan. Jika tuan makan daging, budak juga dapat menu yang sama. Jaminan hidup ditanggung seratus persen. Lalu datang era kolonial, kuli kontrak diikat dengan utang dan ancaman penjara. Kerja paksa memeras keringat sampai kering.

Hari ini, kita menerima upah minim. Perusahaan tak peduli, apakah gajimu cukup untuk makan sehat atau tidak. Dulu, status boleh budak, tapi dijamin hidupnya. Sekarang, statusnya "merdeka", tapi sendirian menanggung lapar.

Nabi melarang keras membebani budak di luar kemampuannya. Jika pekerjaan terlalu berat, tuan wajib membantu. Sementara di masa penjajahan, batas itu dilanggar lewat kerja rodi dan praktik romusha.

Di era modern, batasan itu dihapus oleh teknologi. Konsep 24/7, membuat pekerja wajib untuk siaga setiap detik. WhatsApp kantor menjelma menjadi cambuk digital yang tak kenal waktu.

Sistem perbudakan di zaman nabi meletakan risiko pada pemilik. Di mana budak adalah aset sekaligus amanah. Jika budak sakit, tuan yang rugi, maka tuan wajib merawatnya.

Di sistem modern, risiko itu dilimpahkan sepenuhnya kepada pekerja. Kalau sakit, berarti tak ada pendapatan, kendaraan rusak, ya urus sendiri. Kita disebut "mitra", tapi diperlakukan sebagai Disposable People (manusia sekali pakai). Rusak satu, ganti baru.

Belanda dulu menjerat kuli dengan Voorschot (uang muka). Utang itu didesain agar tak pernah lunas, mengikat kuli seumur hidup kerja di perkebunan.

Hari ini, rantai itu bernama cicilan. Banyak dari kita bekerja bukan karena passion, tapi karena takut dikejar cicilan. Kita membeli alat kerja, kayak sepeda motor atau HP dengan utang, lalu bekerja untuk melunasi alat tersebut. Siklusnya tetap sama, cuma instrumennya yang berbeda.

Zaman kolonial butuh mandor galak dan penjara untuk memaksa orang bekerja. Zaman modern jauh lebih efisien, cukup dengan algoritma dan rating bintang. Rasa takut akan performa turun, akun di-suspend atau kontrak tak diperpanjang adalah teror psikologis.

Dalam Islam ada konsep muktaba, di mana seorang budak boleh mencicil kebebasannya. Negara juga diwajibkan memberi bantuan melalui zakat. Sementara, di era kekinian, keluar dari kemiskinan terasa mustahil bagi pekerja rendah. Upah pas-pasan membuat mereka tak punya simpanan.

Bahkan Nabi Muhammad bersabda : "mereka adalah saudara-saudaramu yang dijadikan Allah di bawah kekuasaanmu". Ada ikatan emosional dan teologis terkait dengan hubungan antara tuan dan budaknya.

Namun, kapitalisme modern menghapus wajah manusiawi itu. Antara CEO dan kurir, pemilik aplikasi dan driver, tidak ada yang namanya persaudaraan. Yang ada hanyalah angka statistik.

Lalu, apakah kita benar-benar bebas? Secara hukum kita bukan budak. Merasa bebas, padahal terjerat rantai tak kasat mata. Bedanya, dulu tuannya satu orang atau personal. Sekarang, tuannya adalah sistem.

Ya, perbudakan tidak pernah mati, dia hanya berganti wajah. Sejarah kerja adalah tentang bagaimana manusi mengikat individu lainnya. (**)