Jangan Percaya dengan Orang yang Jualan Kelas Cepat Kaya
Kamu ngerasa FOMO, takut ketinggalan, ketika semua orang di beranda medsos pamer saldo dan kemewahan. Kamu diperlihatkan figur "guru" trading atau mentor bisnis pamer mobil sport.
"Cukup beli kelas saya seharga Rp 5 juta, kamu bisa pensiun dini tahun depan," cuap sang "guru" trading di tengah koleksi mobil mewahnya.
Kalau kamu ngerasa begitu tertarik dengan apa yang dipamerkan sang "guru" itu, kayaknya kamu perlu belajar sejarah tentang The South Sea Company. Sebuah kisah nyata di tahun 1720, yang bikin orang secerdas Isaac Newton pun bangkrut dan berubah menjadi "Isaac Tangis".
Alkisah, di London, Inggris, pada 1711, ada sebuah perusahaan bernama South Sea Company. Nama yang bikin orang bermimpi indah tentang pantai tropis penuh emas yang saat itu sangat eksotik.
Sama kayak penjual kelas cepat kaya yang jualan mimpi financial freedom, South Sea Company juga jualan narasi. Mereka bilang ke publik Inggris, bahwa mereka memiliki hak monopoli (Asiengo de Negros) untuk berdagang budak dan barang ke "Laut Selatan" (Amerika Selatan).
"Kekayaan Aztec dan Inca bakal mengalir ke kantong kalian," bunyi narasi propaganda South Sea Company.
Sontak, orang-orang Inggris waktu itu, dari tukang sepatu sampai bangsawan langsung berebut beli sahamnya. Harganya pun meroket gila-gilaan.
Tapi, apa faktanya di lapangan? Amerika Selatan saat itu dikuasai Spanyol dan Portugis. Sementara itu, Inggris lagi terlibat perang suksesi Spanyol. Bagaimana mungkin Inggris bisa berdagang di wilayah yang dikuasai musuh? Kalau dipikir pakai logika, memangnya bisa jualan santai di wilayah musuh.
Tapi, direksi perusahaan tak peduli. Mereka terus pumping harga saham dengan menyuap politisi. Terus bikin desas desus palsu, kalau Spanyol sudah mau menyerah dan membuka pelabuhan.
Di tahun 1720, harga saham South Sea Company mencapai puncaknya. Orang-orang menjual tanah dan rumahnya untuk membeli saham yang grafiknya terus naik.
Tapi, kemudian gelembungnya pecah, banyak yang mulai sadar kalau perusahaan ini enggak punya profit riil. Tidak ada kapal yang kembali membawa emas, tak ada perdagangan yang sukses. Harga saham South Sea Company pun menjadi rongsokan dalam sekejap.
Ribuan orang jatuh miskin. Banyak yang bunuh diri, ekonomi Inggris lumpuh. Tragedi ini kemudian dikenal sebagai South Sea Bubble.
Di tengah kehancuran itu siapa yang untung? Investor ritel hancur, rakyat biasa mati kelaparan. Yang menangguk keuntungan adalah orang dalam perusahaan dan politisi yang menjual saham diam-diam pas harganya lagi di puncak. Sebelum publik menyadari itu cuma tipuan.
Mereka tidak kaya dari bisnis di Amerika Selatan. Mereka kaya dari uang orang-orang bodoh yang percaya sama janji manis mereka.
So, apa yang bisa dipelajari dari ini? Produk orang yang sering jualan kelas cepat kaya itu bukan ilmu trading dan bisnis. Produknya adalah kamu. Mereka dapat duit dari uang pendaftaranmu.
Sejarah mengajarkan bahwa kalau kedengarannya terlalu indah untuk jadi kenyataan berarti itu memang bohong. (**)