Kasus Kematian Maradona Disidang Ulang, Diduga Ada Kelalaian
BUENOS AIRES. Sidang ulang terkait kematian legenda sepak bola dunia Diego Maradona resmi dimulai pekan ini di Buenos Aires, Argentina. Proses hukum itu kembali bergulir setahun setelah persidangan sebelumnya dinyatakan batal atau mistrial.
Sebanyak tujuh tenaga medis yang tergabung dalam tim perawatan Maradona, didakwa atas tuduhan pembunuhan karena kelalaian (negligent homicide) terkait wafatnya sang legenda pada usia 60 tahun.
Maradona yang secara luas dianggap sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, meninggal dunia pada 25 November 2020 akibat gagal jantung. Saat itu, Maradona tengah menjalani perawatan dari rumah di Provinsi Buenos Aires setelah sebelumnya sukses menjalani operasi untuk mengangkat gumpalan darah di otak.
Persidangan awal yang dimulai untuk mengungkap tanggung jawab atas kematian Maradona harus dihentikan pada Mei 2025. Salah satu dari tiga hakim yang menangani mengundurkan diri setelah menuai kritik terkait keterlibatannya dalam sebuah serial dokumenter tentang kasus ini.
Hakim Makintach mundur dari persidangan, setelah jaksa Patricio Ferrari menuduhnya bersikap seperti aktris, bukan hakim. Hal itu membuat sidang ditunda hingga akhirnya persidangan dinyatakan batal, meskipun saat itu lebih dari 100 saksi telah memberikan kesaksian.
Dilansir dari The Athletic, Makintach diketahui muncul sebagai salah satu figur utama dalam trailer serial dokumenter berjudul Divine Justice yang mengulas peristiwa sejak kematian Maradona hingga dimulainya persidangan pada Maret 2025.
Dalam sidang terbaru yang dilaksanakan mulai 14 April 2026, tujuh terdakwa terdiri dari seorang ahli bedah saraf, psikiater, psikolog, koordinator medis, koordinator perawat, dokter, serta perawat malam dihadirkan. Para terdakwa dituduh gagal memberikan perawatan yang memadai kepada Maradona sehingga menyebabkan pasien meninggal dunia.
Pihak jaksa menyatakan bahwa tindakan para tenaga medis itu bersifat ceroboh, kurang memadai, dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam menangani kondisi pasien. Namun, seluruh terdakwa membantah tuduhan itu. Mereka berargumen bahwa Maradona menolak perawatan tambahan serta mengabaikan anjuran medis untuk menjalani masa pemulihan lebih lama di rumah setelah operasi otak yang dijalaninya.
Jika terbukti bersalah atas dakwaan pembunuhan dengan kemungkinan niat, masing-masing terdakwa terancam hukuman penjara antara delapan hingga 25 tahun. Menurut laporan dari AP, Hakim Alberto Gaig, Alberto Ortolani, dan Pablo Rolon diperkirakan akan menyampaikan putusan pada awal Juni.
Sebelum meninggal, Maradona tengah dalam masa pemulihan dari operasi hematoma subdural, yaitu kondisi penumpukan darah di antara tengkorak dan otak. Maradona akhirnya meninggal akibat gagal jantung yang disertai edema paru akut, yakni penumpukan cairan berlebih di paru-paru.
Dalam karier internasionalnya, Maradona tampil dalam empat edisi Piala Dunia bersama Argentina, termasuk saat membawa negaranya menjadi juara pada 1986. Maradona juga meraih penghargaan Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen itu.
Maradona sendiri telah mencatat 91 penampilan dan 34 gol untuk tim nasional Argentina. Salah satu momen paling ikonik dalam kariernya ialah gol kontroversial Hand of God ke gawang Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986. Gol itu dicetak saat sang legenda beradu sundulan dengan kiper Inggris dan bola masuk gawang setelah terkena tangan kiri Maradona, tetapi tetap disahkan oleh wasit.
Di level klub, Maradona dikenal luas berkat kiprahnya bersama Napoli karena berhasil membawa klub meraih gelar Serie A pertama pada musim 1986/1987 dan mengulang kesuksesan itu tiga tahun kemudian. Maradona juga pernah meraih gelar bersama Boca Juniors dan Barcelona. (**)