Kelas 92 Setan Merah, Kisah 6 Pemuda yang Melegenda

Kelas 92 Setan Merah, Kisah 6 Pemuda yang Melegenda

20 May 2026 | Evergreen

ANDA penggemar berat Manchester United? Rasanya tak perlu dijelaskan bagaimana kisah dramatis mereka saat merebut trofi Liga Champions pada 1999 silam. Di dalam tim saat itu, ada generasi muda yang sangat berperan.
Enam pemuda dari latar belakang berbeda, bersatu dalam satu cita-cita, memperjuangkan satu lencana kebanggaan, dan akhirnya meraih kejayaan dengan mengalahkan segala tantangan yang ada. Di tengah begitu banyak kisah indah di dunia sepak bola, jarang ada yang seutuh dan sesempurna ini. Tak heran jika perjalanan mereka diabadikan dalam sebuah film dokumenter, selamanya mengukir nama sebagai sejarah terindah Manchester United.

Mereka dikenal luas sebagai Kelas '92. Lahir dan tumbuh saat Inggris tengah dilanda kesulitan ekonomi, nama-nama ini kemudian menjadi legenda yang tak terlupakan, David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, dan Paul Scholes. Bermula dari bangku akademi, mereka tumbuh bersama, berlatih keras, dan perlahan mengangkat nama tim mereka ke puncak kejayaan. Puncak dari segalanya terjadi pada tahun 1999, saat mereka membawa Manchester United meraih gelar Treble Winner, prestasi yang hingga kini tetap menjadi standar kebesaran klub.

Kehebatan mereka tak hanya dirasakan di level klub. Kecuali Giggs yang membela Wales, kelima temannya menjadi andalan Timnas Inggris. Tiga di antaranya bahkan sempat mengenakan ban kapten, menjadi teladan bagi generasi muda. Meskipun belum berhasil membawa pulang trofi utama di kancah internasional, merekalah wajah yang memperkenalkan pesona sepak bola Inggris ke seluruh penjuru dunia. Nama David Beckham bahkan melampaui batas lapangan hijau.

Seperti diceritakan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, saat berkunjung ke sekolah kecil di Jepang, anak-anak di sana mungkin tak mengenal negaranya di peta, tapi seketika bersorak antusias begitu mendengar nama Beckham disebut. Di balik gemerlap prestasi, dokumenter ini juga menampilkan sisi manusiawi mereka. Melalui wawancara langsung, terlihat jelas ikatan persaudaraan yang erat, canda tawa, dan kebersamaan yang terjalin selama puluhan tahun.

Namun, seperti karya seni lainnya, film ini juga memiliki sisi kurangnya, beberapa bagian terasa lambat dan sederhana karena mengandalkan banyak percakapan. Bagi para penggemar Manchester United, kisah ini adalah obat penenang sekaligus penyemangat. Mengingatkan kembali bahwa kejayaan tak datang begitu saja, melainkan dibangun dari persahabatan, kerja keras, dan cinta mendalam pada lencana yang sama. Kelas '92 bukan sekadar angkatan pemain, mereka adalah bukti nyata bahwa mimpi yang diperjuangkan bersama akan selalu menjadi legenda yang abadi. (**)