Ternyata 81 Persen Suporter Tak Suka Penggunaan VAR di Sepak Bola

Ternyata 81 Persen Suporter Tak Suka Penggunaan VAR di Sepak Bola

30 Mar 2026 | Olahraga

HARAPAN agar teknologi mampu menghadirkan keadilan absolut dalam sepak bola, ternyata masih berbenturan dengan realitas di tribun penonton. Survei terbaru menunjukkan, sentimen negatif terhadap penggunaan Video Assistant Referee (VAR) masih sangat kental di kalangan pendukung fanatik.
Berdasarkan riset tahunan yang dirilis Football Supporters' Association (FSA), sebanyak 91 persen responden meyakini bahwa sepak bola justru akan jauh lebih baik jika dimainkan tanpa campur tangan teknologi video. Data ini menjadi tamparan bagi otoritas liga, yang selama delapan tahun terakhir terus berupaya menyempurnakan sistem tersebut di kompetisi Inggris.
Bagi suporter yang rutin memadati stadion, VAR dianggap sebagai pengganggu ritme dan emosi pertandingan. Hanya 2 persen dari total 7.000 responden yang sepakat kehadiran VAR membuat sepak bola menjadi lebih menyenangkan. Sementara itu, 81 persen lainnya secara tegas menyatakan lebih memilih menyaksikan laga tanpa teknologi video.
Dilansir melalui laman The Guardian, dua poin krusial yang menjadi sorotan utama adalah durasi pengambilan keputusan dan hilangnya aspek emosional.
Sebanyak 96 persen suporter mengeluhkan lambatnya proses pengambilan keputusan yang sering kali memakan waktu terlalu lama.
Sementara 92 persen responden merasa VAR telah merenggut "kegembiraan spontan" saat merayakan gol, momen yang selama ini dianggap sebagai ruh dari sepak bola.
Meski resistensi terhadap VAR cukup tinggi, para penggemar menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap transparansi. Lebih dari separuh responden menyambut baik inisiatif komunikasi langsung dari wasit kepada penonton di stadion saat menjelaskan keputusan VAR.
Namun, upaya untuk memperluas kewenangan VAR justru menuai penolakan. Hanya 21 persen yang setuju jika VAR dilibatkan dalam menentukan tendangan sudut, skema yang rencananya akan diuji coba pada Piala Dunia 2026. Mayoritas suporter juga menolak wacana penngecekan kartu kuning kedua oleh teknologi tersebut.
Di sisi lain, para pemangku kepentingan tetap bersikukuh pada jalur digitalisasi. Penyelenggara kompetisi dan klub-klub elite tetap berkomitmen mempertahankan VAR demi meminimalisir kesalahan fatal.
International Football Association Board (IFAB), memang telah mengumumkan peninjauan sistem selama dua tahun ke depan. Namun, narasi yang dibangun bukanlah untuk menghapus VAR, melainkan mencari titik keseimbangan. CEO FOotball Association (FA), Mark Bullingham, menegaskan, fokus utama saat ini adalah memastikan keputusan besar diambil dengan tepat tanpa harus mencederai tempo permainan.
Hingga saat ini, titik temu antara tuntutan keadilan dari pengadil lapangan dan kerinduan akan sepak bola yang mengalir dari tribun penonton masih menjadi teka teki yang sulit dipecahkan. (**)