Waspada, Ada 38 Hotspot Tersebar di Kaltim, BPBD Bersiap Hadapi Kemarau Panjang
SAMARINDA. Peringatan jelang datangnya kemarau panjang mulai disuarakan. Sebab ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemungkinan besar akan terjadi di Kaltim.
Terlebih ada 38 titik panas terpantau tersebar di sejumlah wilayah pada Selasa (31/3/2026) pagi. Hal ini memicu kewaspadaan dini dari pemerintah daerah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim pun mulai memperkuat langkah antisipasi seiring prakiraan musim kemarau panjang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto menyebutkan, saat ini pihaknya masih menunggu penetapan status siaga bencana dari pemerintah provinsi sebagai dasar penguatan langkah di daerah.
“Kami masih menunggu SK penetapan status siaga. Itu penting sebagai acuan kabupaten dan kota dalam menentukan langkah penanganan,” ujarnya.
Meski regulasi masih berproses, persiapan di lapangan terus dilakukan. BPBD mulai memastikan kesiapan peralatan, terutama menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September.
Seluruh daerah diminta melakukan pengecekan ulang sarana pendukung pemadaman, seperti mesin pompa air dan perlengkapan lainnya, agar dapat digunakan secara optimal saat dibutuhkan.
“Peralatan harus dipastikan siap pakai. Jangan sampai saat kejadian justru terkendala teknis,” tegasnya.
Sebaran titik panas sendiri terdeteksi hampir merata, mulai dari wilayah Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau hingga Bontang, sementara Samarinda dan Mahakam Ulu nihil. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa potensi karhutla bisa terjadi di berbagai daerah tanpa terkecuali.
BPBD juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman ini. Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengelola hutan, perusahaan, hingga masyarakat.
“Semua harus bergerak bersama. Pengalaman sebelumnya menunjukkan hampir seluruh wilayah Kaltim rawan karhutla, terutama daerah gambut,” jelas Cahyo.
Di sisi lain, BPBD masih berharap potensi hujan yang sesekali terjadi dapat membantu menekan risiko kebakaran. Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat kewaspadaan tetap harus dijaga.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, yang kerap menjadi pemicu utama kebakaran."Peran masyarakat sangat penting. Pencegahan lebih efektif daripada penanganan,” tambahnya.
Dengan kesiapan yang terus diperkuat dan sinergi berbagai pihak, BPBD optimistis potensi karhutla dapat dikendalikan. Namun, kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama menghadapi musim kemarau tahun ini.
“Yang terpenting adalah kolaborasi. Jika semua pihak siap, risiko kebakaran bisa kita tekan bersama,” pungkasnya. (**)